logo
Kasino di Nagoya Batam Digerebek: 10 WNA dan 187 WNI Diamankan, Polisi Sita Rp7, Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polres Pelalawan Gerebek Transaksi Narkoba di Kebun Sawit, Dua Pria Ditangkap Ba Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi UPDATE: Kapal Tenggelam di Perairan Rupat Bawa 15 PMI Ilegal, 13 Orang Selamat d Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Warga RW 016 Tobekgodang Semarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan Beragam Kegi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Speedboat Berpenumpang PMI Ilegal Terbalik Dihantam Badai di Perairan Rupat, 3 O Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ratusan Gempa Susulan Menggoyang NTT, Terbaru Berkekuatan M5,2 Minggu Pagi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harimau Belum Masuk Perangkap, Warga Danai Diminta Tak Lengah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Giliran Simalungun Sumut Diguncang Gempa Magnitudo 6,4, Terasa Hingga Sumbar dan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Pekanbaru
Rupiah Pagi Ini Melorot ke Rp18.000 per dollar Amerika Serikat, Dampak Gubernur BI Mundur
Rupiah pagi ini dibuka melorot ke posisi Rp18.000/dolar AS. (Foto: Istimewa)
Rupiah Pagi Ini Melorot ke Rp18.000 per dollar Amerika Serikat, Dampak Gubernur BI Mundur
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
Rubrik: ekonomi | 27 Juli 2026 | 11:39:16

JAKARTA-Nilai tukar rupiah di pasar spot pada perdagangan, Senin (27/7/2026) melorot ke posisi Rp18.000 per dollar Amerika Serikat (AS). Pukul 10.51 WIB tadi, rupiah terdepresiasi 37 poin atau 0,21 persen. Kurs rupiah tampak bergerak volatilitas usai aksi pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI).

Kondisi itu memicu gejolak di pasar keuangan domestik. Buktinya, pukul 10.21 WIB, rupiah tercatat melemah 31 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp 17.994 per dollar AS. 

Pada sesi pembukaan Senin pagi tadi, rupiah terdepresiasi 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp 17.976 per dollar AS. 

iklan-view

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menjelaskan, perubahan kepemimpinan BI dapat memunculkan ketidakpastian terkait kesinambungan kebijakan moneter. 

Kondisi ini akan mempengaruhi sentimen investor, sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) yang pada akhirnya dapat menekan valuasi saham di pasar modal. 

“Pergantian pimpinan BI picu kekhawatiran pasar. Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri sebagai Gubernur BI, sementara Destry Damayanti ditunjuk sebagai pelaksana tugas. Ini pergantian ini dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap kesinambungan kebijakan moneter dan menekan rupiah,” ujar Nafan dikutip PekanbaruTV.com dari Kompas.com, Senin (27/7/2026). 

Ia juga memperkirakan, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berpotensi mengalami kenaikan. Peningkatan yield akan mendorong naiknya tingkat bebas risiko (risk-free rate), sehingga dapat menekan valuasi saham di pasar ekuitas. 

“Yield SBN 10 tahun juga berisiko naik, sehingga meningkatkan tingkat bebas risiko dan menekan valuasi saham,” ucap Nafan. 

Meski demikian, ia masih memperkirakan Bank Indonesia akan tetap menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,0 persen. Namun, arah kebijakan moneter ke depan berpotensi menjadi lebih berorientasi pada upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. 

“BI masih diperkirakan menaikkan suku bunga 25 bps ke 6,0 persen, meski arah kebijakan berpotensi lebih pro pertumbuhan,” lanjutnya. 

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi sebelumnya mengatakan, Presiden Prabowo Subianto telah menerima surat pengunduran diri Perry. 

“Bahwa per kemarin secara resmi kami menerima surat pengunduran diri dari Gubernur Bank Indonesia kepada Bapak Presiden,” ujar Prasetyo dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta Pusat, Senin pagi. 

Selanjutnya, sesuai ketentuan Undang-Undang Bank Indonesia, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti akan menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI. 

“Untuk selanjutnya sesuai UU BI, jabatan Gubernur BI akan secara otomatis dijabat oleh Deputi Gubernur Senior yang selanjutnya akan menjalankan seluruh tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara,” katanya. 

Destry memastikan, BI akan tetap menjalankan seluruh tugas dan kewenangannya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran dan turut menjaga stabilitas sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi. 

Berikutnya, BI selalu memastikan keberlangsungan tugas dan wewenang untuk mencapai stabilitas nilai tukar rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran dan menjaga stabilitas sistem keuangan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. 

“Yang dapat menciptakan lingkungan ekonomi yang kondusif bagi pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja sesuai dengan amanat Undang-Undang Bank Indonesia,” tukasnya. (bsh)

Home / Ekonomi
Rupiah Pagi Ini Melorot ke Rp18.000 per dollar Amerika Serikat, Dampak Gubernur BI Mundur
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
Rubrik: ekonomi | 27 Juli 2026 | 11:39:16
Rupiah Pagi Ini Melorot ke Rp18.000 per dollar Amerika Serikat, Dampak Gubernur BI Mundur
Rupiah pagi ini dibuka melorot ke posisi Rp18.000/dolar AS. (Foto: Istimewa)

JAKARTA-Nilai tukar rupiah di pasar spot pada perdagangan, Senin (27/7/2026) melorot ke posisi Rp18.000 per dollar Amerika Serikat (AS). Pukul 10.51 WIB tadi, rupiah terdepresiasi 37 poin atau 0,21 persen. Kurs rupiah tampak bergerak volatilitas usai aksi pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI).

Kondisi itu memicu gejolak di pasar keuangan domestik. Buktinya, pukul 10.21 WIB, rupiah tercatat melemah 31 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp 17.994 per dollar AS. 

Pada sesi pembukaan Senin pagi tadi, rupiah terdepresiasi 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp 17.976 per dollar AS. 

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menjelaskan, perubahan kepemimpinan BI dapat memunculkan ketidakpastian terkait kesinambungan kebijakan moneter. 

Kondisi ini akan mempengaruhi sentimen investor, sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) yang pada akhirnya dapat menekan valuasi saham di pasar modal. 

“Pergantian pimpinan BI picu kekhawatiran pasar. Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri sebagai Gubernur BI, sementara Destry Damayanti ditunjuk sebagai pelaksana tugas. Ini pergantian ini dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap kesinambungan kebijakan moneter dan menekan rupiah,” ujar Nafan dikutip PekanbaruTV.com dari Kompas.com, Senin (27/7/2026). 

Ia juga memperkirakan, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berpotensi mengalami kenaikan. Peningkatan yield akan mendorong naiknya tingkat bebas risiko (risk-free rate), sehingga dapat menekan valuasi saham di pasar ekuitas. 

“Yield SBN 10 tahun juga berisiko naik, sehingga meningkatkan tingkat bebas risiko dan menekan valuasi saham,” ucap Nafan. 

Meski demikian, ia masih memperkirakan Bank Indonesia akan tetap menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,0 persen. Namun, arah kebijakan moneter ke depan berpotensi menjadi lebih berorientasi pada upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. 

“BI masih diperkirakan menaikkan suku bunga 25 bps ke 6,0 persen, meski arah kebijakan berpotensi lebih pro pertumbuhan,” lanjutnya. 

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi sebelumnya mengatakan, Presiden Prabowo Subianto telah menerima surat pengunduran diri Perry. 

“Bahwa per kemarin secara resmi kami menerima surat pengunduran diri dari Gubernur Bank Indonesia kepada Bapak Presiden,” ujar Prasetyo dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta Pusat, Senin pagi. 

Selanjutnya, sesuai ketentuan Undang-Undang Bank Indonesia, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti akan menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI. 

“Untuk selanjutnya sesuai UU BI, jabatan Gubernur BI akan secara otomatis dijabat oleh Deputi Gubernur Senior yang selanjutnya akan menjalankan seluruh tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara,” katanya. 

Destry memastikan, BI akan tetap menjalankan seluruh tugas dan kewenangannya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran dan turut menjaga stabilitas sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi. 

Berikutnya, BI selalu memastikan keberlangsungan tugas dan wewenang untuk mencapai stabilitas nilai tukar rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran dan menjaga stabilitas sistem keuangan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. 

“Yang dapat menciptakan lingkungan ekonomi yang kondusif bagi pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja sesuai dengan amanat Undang-Undang Bank Indonesia,” tukasnya. (bsh)