
PEKANBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi 10 titik panas (hotspot) di Provinsi Riau pada Jumat (31/7/2026). Kabupaten Pelalawan menjadi daerah dengan jumlah titik api terbanyak, yakni empat titik, seiring masih berlangsungnya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.
Selain Pelalawan, BMKG mencatat tiga titik panas berada di Kabupaten Siak. Sementara masing-masing satu titik terpantau di Kabupaten Indragiri Hulu, Rokan Hilir, dan Kota Dumai.
Di tingkat regional, Pulau Sumatera tercatat memiliki 51 titik panas. Provinsi Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 14 titik.
Sejalan dengan meningkatnya potensi karhutla, tim Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera masih berjibaku memadamkan api di dua lokasi berbeda di Kabupaten Pelalawan dengan total luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 12,2 hektare.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan lokasi pertama berada di Kuala Tolam, Kecamatan Pelalawan, dengan luas kebakaran sekitar 2,1 hektare. Operasi pemadaman telah memasuki hari kedua dan ditargetkan tuntas.
Sementara itu, lokasi kedua berada di Kecamatan Kerumutan dengan estimasi luas kebakaran mencapai 10 hektare. Api di kawasan ini dinilai masih berpotensi meluas sehingga proses pemadaman terus dilakukan melalui operasi darat yang diperkuat bantuan helikopter water bombing milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Pascaevaluasi, kami berencana menambah personel di lokasi Kerumutan agar proses pemadaman lebih optimal," ujar Ferdian.
Sebagai upaya menekan risiko meluasnya kebakaran, pemerintah juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan sasaran wilayah Pelalawan dan Indragiri Hilir. Dalam operasi tersebut, sekitar satu ton garam disemai ke awan melalui satu sortie penerbangan untuk memicu hujan.
Sebelumnya, kawasan Kerumutan juga dilanda karhutla pada Minggu (26/7/2026), tepatnya di Desa Mak Teduh. Saat itu, sekitar 3,5 hektare lahan terbakar dan proses pemadaman juga melibatkan helikopter water bombing. (**/ntr)






PEKANBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi 10 titik panas (hotspot) di Provinsi Riau pada Jumat (31/7/2026). Kabupaten Pelalawan menjadi daerah dengan jumlah titik api terbanyak, yakni empat titik, seiring masih berlangsungnya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.
Selain Pelalawan, BMKG mencatat tiga titik panas berada di Kabupaten Siak. Sementara masing-masing satu titik terpantau di Kabupaten Indragiri Hulu, Rokan Hilir, dan Kota Dumai.
Di tingkat regional, Pulau Sumatera tercatat memiliki 51 titik panas. Provinsi Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 14 titik.
Sejalan dengan meningkatnya potensi karhutla, tim Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera masih berjibaku memadamkan api di dua lokasi berbeda di Kabupaten Pelalawan dengan total luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 12,2 hektare.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan lokasi pertama berada di Kuala Tolam, Kecamatan Pelalawan, dengan luas kebakaran sekitar 2,1 hektare. Operasi pemadaman telah memasuki hari kedua dan ditargetkan tuntas.
Sementara itu, lokasi kedua berada di Kecamatan Kerumutan dengan estimasi luas kebakaran mencapai 10 hektare. Api di kawasan ini dinilai masih berpotensi meluas sehingga proses pemadaman terus dilakukan melalui operasi darat yang diperkuat bantuan helikopter water bombing milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Pascaevaluasi, kami berencana menambah personel di lokasi Kerumutan agar proses pemadaman lebih optimal," ujar Ferdian.
Sebagai upaya menekan risiko meluasnya kebakaran, pemerintah juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan sasaran wilayah Pelalawan dan Indragiri Hilir. Dalam operasi tersebut, sekitar satu ton garam disemai ke awan melalui satu sortie penerbangan untuk memicu hujan.
Sebelumnya, kawasan Kerumutan juga dilanda karhutla pada Minggu (26/7/2026), tepatnya di Desa Mak Teduh. Saat itu, sekitar 3,5 hektare lahan terbakar dan proses pemadaman juga melibatkan helikopter water bombing. (**/ntr)