
JAKARTA - Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau. Pada Jumat (31/7/2026), mata uang Garuda menguat 89 poin atau 0,49 persen ke level Rp18.022 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di posisi Rp18.114 per dolar AS.
Meski mencatat penguatan pada akhir pekan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dibayangi volatilitas pada awal perdagangan pekan depan.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, sebagaimana dikutip investor.id, memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin (3/8/2026) akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp18.020 hingga Rp18.070 per dolar AS.
Secara mingguan, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak dalam rentang Rp17.920 hingga Rp18.300 per dolar AS.

Menurutnya, sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satunya adalah perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama terkait ketegangan AS-Iran yang mulai diimbangi dengan meningkatnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dunia. Kawasan ini menjadi perhatian pelaku pasar sejak konflik AS-Israel terhadap Iran pecah pada 28 Februari 2026 dan sempat mengganggu arus distribusi energi global.
Selain faktor geopolitik, pasar juga masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Federal Reserve pekan ini kembali mempertahankan suku bunga acuannya. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan komitmen bank sentral AS untuk membawa inflasi kembali ke target 2 persen.
Namun demikian, inflasi inti berdasarkan indeks PCE masih berada di atas target tersebut. Kondisi itu membuat pasar tetap membuka peluang adanya setidaknya satu kali kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir 2026, yang berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai rupiah juga akan dipengaruhi dinamika kebijakan fiskal setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipisahkan dari alokasi anggaran pendidikan.
Sementara itu, sentimen positif datang dari ekspektasi inflasi Indonesia yang diperkirakan kembali melandai pada Juli 2026. Perlambatan tekanan harga pangan serta normalisasi harga-harga yang diatur pemerintah diperkirakan mampu menjaga stabilitas inflasi, meski inflasi tahunan masih diproyeksikan mendekati level 3 persen. (**)






JAKARTA - Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau. Pada Jumat (31/7/2026), mata uang Garuda menguat 89 poin atau 0,49 persen ke level Rp18.022 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di posisi Rp18.114 per dolar AS.
Meski mencatat penguatan pada akhir pekan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dibayangi volatilitas pada awal perdagangan pekan depan.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, sebagaimana dikutip investor.id, memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin (3/8/2026) akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp18.020 hingga Rp18.070 per dolar AS.
Secara mingguan, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak dalam rentang Rp17.920 hingga Rp18.300 per dolar AS.
Menurutnya, sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satunya adalah perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama terkait ketegangan AS-Iran yang mulai diimbangi dengan meningkatnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dunia. Kawasan ini menjadi perhatian pelaku pasar sejak konflik AS-Israel terhadap Iran pecah pada 28 Februari 2026 dan sempat mengganggu arus distribusi energi global.
Selain faktor geopolitik, pasar juga masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Federal Reserve pekan ini kembali mempertahankan suku bunga acuannya. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan komitmen bank sentral AS untuk membawa inflasi kembali ke target 2 persen.
Namun demikian, inflasi inti berdasarkan indeks PCE masih berada di atas target tersebut. Kondisi itu membuat pasar tetap membuka peluang adanya setidaknya satu kali kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir 2026, yang berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai rupiah juga akan dipengaruhi dinamika kebijakan fiskal setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipisahkan dari alokasi anggaran pendidikan.
Sementara itu, sentimen positif datang dari ekspektasi inflasi Indonesia yang diperkirakan kembali melandai pada Juli 2026. Perlambatan tekanan harga pangan serta normalisasi harga-harga yang diatur pemerintah diperkirakan mampu menjaga stabilitas inflasi, meski inflasi tahunan masih diproyeksikan mendekati level 3 persen. (**)