
JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada penutupan perdagangan Rabu (2/9/2026). Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah tekanan sentimen global dan kekhawatiran terhadap perkembangan inflasi domestik.
Mengacu pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 19 poin atau 0,11% ke level Rp17.763 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup di posisi Rp17.744 per dolar AS.
Pergerakan rupiah masih dibayangi sejumlah sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi seperti dikutip investor.id, mengatakan eskalasi konflik AS-Iran menjadi salah satu faktor yang memberikan tekanan terhadap rupiah. Pasar kembali mencermati perkembangan terbaru terkait ketegangan kedua negara tersebut.
Militer AS sebelumnya dikabarkan melancarkan gelombang serangan terbaru terhadap Iran dengan menyasar sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Mengutip laporan media Axios yang bersumber dari pejabat AS, militer AS juga disebut menyerang dua kapal tanker milik pemerintah Iran dalam serangan pada Selasa.
Selain konflik geopolitik, perhatian pasar tertuju pada prospek kebijakan moneter AS. Pernyataan pejabat The Fed kembali memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi belum mereda.
Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai inflasi dalam Simposium Jackson Hole turut menjadi perhatian pelaku pasar. Pernyataan tersebut dinilai kembali menghidupkan spekulasi terhadap arah kebijakan suku bunga AS.
Sinyal hawkish juga datang dari Gubernur The Fed Michael Barr. Ia menilai inflasi yang masih berada di atas target menciptakan risiko terhadap perekonomian.
Barr menyatakan dirinya mendukung mempertahankan suku bunga apabila terdapat keyakinan bahwa inflasi sedang melambat. Namun, ia mengingatkan bahwa apabila inflasi tidak segera turun, kenaikan suku bunga dapat kembali menjadi pilihan.
Inflasi Pangan Jadi Perhatian
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari perkembangan harga pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga sejumlah komoditas pangan pada Agustus 2026.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena tekanan harga pangan berpotensi berlanjut dan memengaruhi daya beli masyarakat.
"Masalahnya, tekanan kenaikan harga pangan berpotensi masih menghantui daya beli masyarakat ke depan. BPS mencatat bahwa makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok pengeluaran yang memberi kontribusi paling tinggi terhadap kenaikan inflasi pada Agustus 2026," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).
Dengan demikian, rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (2/9/2026) berada di level Rp17.763 per dolar AS, melemah 19 poin dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati perkembangan konflik geopolitik global, arah kebijakan The Fed, serta dinamika inflasi domestik yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dalam perdagangan berikutnya. (*)



JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada penutupan perdagangan Rabu (2/9/2026). Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah tekanan sentimen global dan kekhawatiran terhadap perkembangan inflasi domestik.
Mengacu pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 19 poin atau 0,11% ke level Rp17.763 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup di posisi Rp17.744 per dolar AS.
Pergerakan rupiah masih dibayangi sejumlah sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi seperti dikutip investor.id, mengatakan eskalasi konflik AS-Iran menjadi salah satu faktor yang memberikan tekanan terhadap rupiah. Pasar kembali mencermati perkembangan terbaru terkait ketegangan kedua negara tersebut.
Militer AS sebelumnya dikabarkan melancarkan gelombang serangan terbaru terhadap Iran dengan menyasar sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Mengutip laporan media Axios yang bersumber dari pejabat AS, militer AS juga disebut menyerang dua kapal tanker milik pemerintah Iran dalam serangan pada Selasa.
Selain konflik geopolitik, perhatian pasar tertuju pada prospek kebijakan moneter AS. Pernyataan pejabat The Fed kembali memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi belum mereda.
Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai inflasi dalam Simposium Jackson Hole turut menjadi perhatian pelaku pasar. Pernyataan tersebut dinilai kembali menghidupkan spekulasi terhadap arah kebijakan suku bunga AS.
Sinyal hawkish juga datang dari Gubernur The Fed Michael Barr. Ia menilai inflasi yang masih berada di atas target menciptakan risiko terhadap perekonomian.
Barr menyatakan dirinya mendukung mempertahankan suku bunga apabila terdapat keyakinan bahwa inflasi sedang melambat. Namun, ia mengingatkan bahwa apabila inflasi tidak segera turun, kenaikan suku bunga dapat kembali menjadi pilihan.
Inflasi Pangan Jadi Perhatian
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari perkembangan harga pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga sejumlah komoditas pangan pada Agustus 2026.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena tekanan harga pangan berpotensi berlanjut dan memengaruhi daya beli masyarakat.
"Masalahnya, tekanan kenaikan harga pangan berpotensi masih menghantui daya beli masyarakat ke depan. BPS mencatat bahwa makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok pengeluaran yang memberi kontribusi paling tinggi terhadap kenaikan inflasi pada Agustus 2026," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).
Dengan demikian, rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (2/9/2026) berada di level Rp17.763 per dolar AS, melemah 19 poin dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati perkembangan konflik geopolitik global, arah kebijakan The Fed, serta dinamika inflasi domestik yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dalam perdagangan berikutnya. (*)