logo
Jasad Diduga ABK Kapal 5 Jurnalis Ditemukan 340 Km dari Anak Krakatau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kejahatan Lingkungan di Rupat: Hutan Mangrove Dibabat Jadi Arang, Kapolda Riau T Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Penyelundupan 140 Ton Arang Mangrove ke Malaysia Digagalkan, Dua Tersangka Ditan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Penggeledahan Lapas Narkotika Rumbai, Petugas Sita 5 Pisau Rakitan dan Mata Geri Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BMKG Usulkan Pembangunan Pangkalan AJU di Riau untuk Percepat Operasi Modifikasi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Diskes Pekanbaru Catat 6.622 Kasus Gangguan Kesehatan Akibat Kabut Asap Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Bikin Geleng Kepala, Inilah Hewan-Hewan dengan Harga Paling Mahal Sepanjang Seja Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Beasiswa Pemko Pekanbaru Sudah Cair, Mahasiswa yang Belum Dapat Diminta Bersiap Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pekanbaru
BMKG Deteksi 13 Hotspot di Riau, 10 Titik Terkonsentrasi di Indragiri Hulu
13 titik panas kembali muncul di sejumlah wilayah Riau. (Foto: Istimewa)
BMKG Deteksi 13 Hotspot di Riau, 10 Titik Terkonsentrasi di Indragiri Hulu
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
Rubrik: news | 22 September 2026 | 11:07:31

PEKANBARU-Aktivitas titik panas kembali terpantau di sejumlah wilayah Riau. Data satelit yang dipantau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Selasa (22/9/2026) pagi mencatat kemunculan 13 hotspot di provinsi ini.

Sebaran titik panas tidak merata. Konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Indragiri Hulu yang tercatat memiliki 10 hotspot.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Anggun R mengatakan, tiga titik panas lainnya tersebar di tiga daerah.

iklan-view

“Indragiri Hulu menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 10 titik. Kemudian masing-masing satu hotspot terpantau di Dumai, Kuantan Singingi dan Indragiri Hilir,” kata Anggun.

Dari 13 hotspot yang terdeteksi di Riau, Indragiri Hulu menyumbang 10 titik. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dibandingkan tiga wilayah lain yang masing-masing hanya memiliki satu titik.

Tiga daerah tersebut yakni Kota Dumai, Kabupaten Kuantan Singingi dan Kabupaten Indragiri Hilir.

Data hotspot ini menjadi salah satu indikator yang terus dipantau BMKG dalam melihat potensi munculnya kebakaran hutan dan lahan. Keberadaan titik panas belum otomatis menunjukkan telah terjadi kebakaran, sehingga diperlukan pengecekan lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Jika dibandingkan dengan wilayah lain di Sumatera, jumlah titik panas di Riau masih relatif kecil. Citra satelit BMKG pada waktu pemantauan yang sama mendeteksi 1.149 hotspot di Pulau Sumatera.

Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah titik panas paling tinggi, mencapai 713 titik. Berikutnya Bangka Belitung dengan 213 titik, Lampung 100 titik dan Jambi 97 titik.

Hotspot juga ditemukan di sejumlah provinsi lain. Aceh tercatat empat titik, Sumatera Utara tiga titik, sedangkan Bengkulu dan Sumatera Barat masing-masing satu titik.

Kepulauan Riau turut terpantau memiliki empat hotspot.

Hotspot Jadi Indikator Awal Karhutla
Pantauan titik panas memiliki peran penting dalam sistem kewaspadaan kebakaran hutan dan lahan. Data dari satelit dapat membantu petugas mengidentifikasi wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

Namun, hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan titik kebakaran. Anomali suhu permukaan dapat berasal dari berbagai sumber dan tetap membutuhkan verifikasi di lapangan.

Dengan 10 hotspot terkonsentrasi di Indragiri Hulu, pemantauan terhadap wilayah tersebut menjadi salah satu perhatian dalam perkembangan kondisi karhutla di Riau.

Masyarakat juga diimbau tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, khususnya pembakaran lahan secara terbuka. Kondisi cuaca dan perkembangan titik panas akan terus dipantau untuk mengantisipasi peningkatan risiko kebakaran. (rac)

Home / News
BMKG Deteksi 13 Hotspot di Riau, 10 Titik Terkonsentrasi di Indragiri Hulu
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
Rubrik: news | 22 September 2026 | 11:07:31
BMKG Deteksi 13 Hotspot di Riau, 10 Titik Terkonsentrasi di Indragiri Hulu
13 titik panas kembali muncul di sejumlah wilayah Riau. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU-Aktivitas titik panas kembali terpantau di sejumlah wilayah Riau. Data satelit yang dipantau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Selasa (22/9/2026) pagi mencatat kemunculan 13 hotspot di provinsi ini.

Sebaran titik panas tidak merata. Konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Indragiri Hulu yang tercatat memiliki 10 hotspot.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Anggun R mengatakan, tiga titik panas lainnya tersebar di tiga daerah.

“Indragiri Hulu menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 10 titik. Kemudian masing-masing satu hotspot terpantau di Dumai, Kuantan Singingi dan Indragiri Hilir,” kata Anggun.

Dari 13 hotspot yang terdeteksi di Riau, Indragiri Hulu menyumbang 10 titik. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dibandingkan tiga wilayah lain yang masing-masing hanya memiliki satu titik.

Tiga daerah tersebut yakni Kota Dumai, Kabupaten Kuantan Singingi dan Kabupaten Indragiri Hilir.

Data hotspot ini menjadi salah satu indikator yang terus dipantau BMKG dalam melihat potensi munculnya kebakaran hutan dan lahan. Keberadaan titik panas belum otomatis menunjukkan telah terjadi kebakaran, sehingga diperlukan pengecekan lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Jika dibandingkan dengan wilayah lain di Sumatera, jumlah titik panas di Riau masih relatif kecil. Citra satelit BMKG pada waktu pemantauan yang sama mendeteksi 1.149 hotspot di Pulau Sumatera.

Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah titik panas paling tinggi, mencapai 713 titik. Berikutnya Bangka Belitung dengan 213 titik, Lampung 100 titik dan Jambi 97 titik.

Hotspot juga ditemukan di sejumlah provinsi lain. Aceh tercatat empat titik, Sumatera Utara tiga titik, sedangkan Bengkulu dan Sumatera Barat masing-masing satu titik.

Kepulauan Riau turut terpantau memiliki empat hotspot.

Hotspot Jadi Indikator Awal Karhutla
Pantauan titik panas memiliki peran penting dalam sistem kewaspadaan kebakaran hutan dan lahan. Data dari satelit dapat membantu petugas mengidentifikasi wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

Namun, hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan titik kebakaran. Anomali suhu permukaan dapat berasal dari berbagai sumber dan tetap membutuhkan verifikasi di lapangan.

Dengan 10 hotspot terkonsentrasi di Indragiri Hulu, pemantauan terhadap wilayah tersebut menjadi salah satu perhatian dalam perkembangan kondisi karhutla di Riau.

Masyarakat juga diimbau tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, khususnya pembakaran lahan secara terbuka. Kondisi cuaca dan perkembangan titik panas akan terus dipantau untuk mengantisipasi peningkatan risiko kebakaran. (rac)