
PEKANBARU - Harga cabai menjadi salah satu pemicu utama inflasi Provinsi Riau pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Riau mencatat inflasi bulanan Riau mencapai 0,64 persen.
Ketua Tim Statistik Distribusi dan Jasa BPS Riau, Fitri Hariyanti, mengatakan inflasi terjadi di tingkat provinsi maupun empat kota yang menjadi wilayah pengukuran inflasi di Riau.
“Provinsi Riau inflasi bulan ke bulannya 0,64 persen kemudian inflasi tahun ke tahunnya 2,79 persen dan inflasi tahun kalendernya 1,84 persen,” kata Fitri saat ditemui di Kantor BPS Riau, Kamis (1/10/2026).

Menurut Fitri, angka inflasi tahunan sebesar 2,79 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 1,84 persen masih berada dalam rentang target inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.

Ketua Tim Statistik Distribusi dan Jasa BPS Riau, Fitri Hariyanti diwawancarai awak media usai Rilis Berita Resmi Statistik di kantor BPS Riau, Kamis, (1/10/2026). (Foto: Abdul Haris/ Pekanbarutv)
Fitri bilang, berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tertinggi berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,76 persen. Kemudian kelompok pendidikan mengalami inflasi sebesar 0,55 persen dan transportasi sebesar 0,27 persen.
Sejumlah komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi antara lain cabai merah, ayam hidup, cabai rawit, mobil, ikan, serai, serta biaya akademis.
Fitri menjelaskan cabai merah menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi Riau pada September 2026, yakni sebesar 0,49 persen. Sementara ayam hidup memberikan andil sebesar 0,05 persen.
Menurutnya, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan tersebut dipengaruhi keterbatasan pasokan di tengah permintaan masyarakat yang tetap tinggi.
“Penyebab inflasi karena kelangkaan di pasar, banyaknya permintaan dan barang tersedia cukup terbatas menyebabkan harga semakin tinggi,” kata dia.
Selain itu, faktor cuaca turut mempengaruhi pasokan cabai. Hujan disebut menyebabkan gagal panen di sejumlah daerah produksi.
“Musim hujan juga menyebabkan gagal panen cabai di daerah produksi karena kita tahu Provinsi Riau adalah pengguna bukan penghasil,” kata Fitri.
Ekspor Riau Naik, Ekspor Migas Turun
Di sisi perdagangan, nilai ekspor Riau pada Agustus 2026 juga mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Fitri mengatakan ekspor Riau pada Agustus 2026 tumbuh 5,57 persen dibandingkan Agustus 2025.
Pertumbuhan tersebut ditopang ekspor nonmigas yang meningkat 10,09 persen. Namun, ekspor migas justru mengalami penurunan sebesar 62,36 persen.
“Bulan ini Agustus 2026 mengalami peningkatan. Kalau dibandingkan tahun lalu naik 5,57 persen. Berdasarkan migas dan nonmigasnya, yang nonmigas itu naik 10,09 persen dan migasnya turun 62,36 persen,” pungkasnya. (har)




PEKANBARU - Harga cabai menjadi salah satu pemicu utama inflasi Provinsi Riau pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Riau mencatat inflasi bulanan Riau mencapai 0,64 persen.
Ketua Tim Statistik Distribusi dan Jasa BPS Riau, Fitri Hariyanti, mengatakan inflasi terjadi di tingkat provinsi maupun empat kota yang menjadi wilayah pengukuran inflasi di Riau.
“Provinsi Riau inflasi bulan ke bulannya 0,64 persen kemudian inflasi tahun ke tahunnya 2,79 persen dan inflasi tahun kalendernya 1,84 persen,” kata Fitri saat ditemui di Kantor BPS Riau, Kamis (1/10/2026).
Menurut Fitri, angka inflasi tahunan sebesar 2,79 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 1,84 persen masih berada dalam rentang target inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.

Ketua Tim Statistik Distribusi dan Jasa BPS Riau, Fitri Hariyanti diwawancarai awak media usai Rilis Berita Resmi Statistik di kantor BPS Riau, Kamis, (1/10/2026). (Foto: Abdul Haris/ Pekanbarutv)
Fitri bilang, berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tertinggi berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,76 persen. Kemudian kelompok pendidikan mengalami inflasi sebesar 0,55 persen dan transportasi sebesar 0,27 persen.
Sejumlah komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi antara lain cabai merah, ayam hidup, cabai rawit, mobil, ikan, serai, serta biaya akademis.
Fitri menjelaskan cabai merah menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi Riau pada September 2026, yakni sebesar 0,49 persen. Sementara ayam hidup memberikan andil sebesar 0,05 persen.
Menurutnya, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan tersebut dipengaruhi keterbatasan pasokan di tengah permintaan masyarakat yang tetap tinggi.
“Penyebab inflasi karena kelangkaan di pasar, banyaknya permintaan dan barang tersedia cukup terbatas menyebabkan harga semakin tinggi,” kata dia.
Selain itu, faktor cuaca turut mempengaruhi pasokan cabai. Hujan disebut menyebabkan gagal panen di sejumlah daerah produksi.
“Musim hujan juga menyebabkan gagal panen cabai di daerah produksi karena kita tahu Provinsi Riau adalah pengguna bukan penghasil,” kata Fitri.
Ekspor Riau Naik, Ekspor Migas Turun
Di sisi perdagangan, nilai ekspor Riau pada Agustus 2026 juga mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Fitri mengatakan ekspor Riau pada Agustus 2026 tumbuh 5,57 persen dibandingkan Agustus 2025.
Pertumbuhan tersebut ditopang ekspor nonmigas yang meningkat 10,09 persen. Namun, ekspor migas justru mengalami penurunan sebesar 62,36 persen.
“Bulan ini Agustus 2026 mengalami peningkatan. Kalau dibandingkan tahun lalu naik 5,57 persen. Berdasarkan migas dan nonmigasnya, yang nonmigas itu naik 10,09 persen dan migasnya turun 62,36 persen,” pungkasnya. (har)