
PEKANBARU - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Riau (BEM UIR) mengecam dugaan tindakan represif aparat kepolisian terhadap Presiden Mahasiswa UIR, Muhammad Ramadhanu, dan massa aksi dalam demonstrasi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau, Senin (26/10/2026).
Insiden itu disebut menyebabkan sejumlah peserta aksi harus mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
Menteri Komunikasi dan Informasi BEM UIR, Muhammad Amsari mengatakan demonstrasi yang melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus di Riau kala itu merupakan bentuk kepedulian terhadap persoalan karhutla di Riau.
Namun, ia menyayangkan dugaan tindakan represif aparat kepolisian saat mengamankan jalannya demonstrasi.
“Kami datang membawa aspirasi, bukan konfrontasi. Peristiwa ini menjadi catatan serius bagi kami dan mempertanyakan bagaimana perlindungan terhadap kami yang menyampaikan aspirasi,” kata Amsari kepada jurnalis Pekanbarutv.com pada Rabu (28/10/2026).
Menurut Amsari, kebebasan menyampaikan pendapat seharusnya dijamin dan dilindungi. Ia menilai pengamanan demonstrasi tidak semestinya dilakukan secara berlebihan, terlebih jika disertai dugaan tindakan represif terhadap peserta aksi.
“Peristiwa ini jadi perhatian serius bagi kami dan mempertanyakan bagaimana sebenarnya keamanan kami saat demo,” ujarnya.
Selain menyoroti tindakan aparat kepolisian, Amsari juga menyayangkan ketidakhadiran Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, untuk menemui mahasiswa yang berunjuk rasa.
Menurutnya, kepala daerah diharapkan dapat menemui mahasiswa untuk berdialog dan mendengarkan aspirasi yang disampaikan dalam demonstrasi tersebut.
BEM UIR Sampaikan Tuntutan
Atas peristiwa tersebut, BEM UIR menyampaikan sejumlah tuntutan terkait dugaan tindakan represif aparat kepolisian selama demonstrasi.
BEM UIR mengecam tindakan kepolisian yang disebut melakukan pembubaran massa aksi. Mereka meminta pemberian sanksi hingga pemecatan terhadap anggota kepolisian yang diduga melakukan kekerasan.
Selain itu, BEM UIR menuntut pihak kepolisian dan pemerintah memberikan bantuan moril dan materil kepada peserta demonstrasi yang menjadi korban.
Sebelumnya, bentrokan antara mahasiswa dan aparat kepolisian pecah di depan Kantor Gubernur Riau. Insiden ini menyebabkan salah satu Presiden Mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR), Muhammad Ramadhanu terjatuh dan mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
Bentrokan terjadi ketika massa aksi berupaya menerobos gerbang Kantor Gubernur Riau menggunakan mobil komando.
Di tengah ketegangan, mahasiswa mendesak Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto untuk keluar dan menemui massa secara langsung.
"Kami meminta Pak SF Hariyanto untuk keluar, jumpa dengan kami. Jangan jadi pengecut," ujar salah seorang mahasiswa dalam orasinya.
Namun, hingga pukul 17.00 WIB, massa aksi masih menunggu kehadiran SF Hariyanto. Desakan tersebut terus disuarakan mahasiswa yang menginginkan aspirasi mereka didengar secara langsung oleh pimpinan Pemerintah Provinsi Riau.
Terjatuhnya salah satu Presiden Mahasiswa UIR dalam bentrokan itu menjadi sorotan tersendiri. Usai bentrokan terjadi, massa aksi juga berupaya memblokade jalan di simpang Tugu Zapin. Situasi kemudian berangsur mereda setelah koordinator aksi meminta peserta demonstrasi untuk tetap kondusif. (har)







PEKANBARU - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Riau (BEM UIR) mengecam dugaan tindakan represif aparat kepolisian terhadap Presiden Mahasiswa UIR, Muhammad Ramadhanu, dan massa aksi dalam demonstrasi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau, Senin (26/10/2026).
Insiden itu disebut menyebabkan sejumlah peserta aksi harus mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
Menteri Komunikasi dan Informasi BEM UIR, Muhammad Amsari mengatakan demonstrasi yang melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus di Riau kala itu merupakan bentuk kepedulian terhadap persoalan karhutla di Riau.
Namun, ia menyayangkan dugaan tindakan represif aparat kepolisian saat mengamankan jalannya demonstrasi.
“Kami datang membawa aspirasi, bukan konfrontasi. Peristiwa ini menjadi catatan serius bagi kami dan mempertanyakan bagaimana perlindungan terhadap kami yang menyampaikan aspirasi,” kata Amsari kepada jurnalis Pekanbarutv.com pada Rabu (28/10/2026).
Menurut Amsari, kebebasan menyampaikan pendapat seharusnya dijamin dan dilindungi. Ia menilai pengamanan demonstrasi tidak semestinya dilakukan secara berlebihan, terlebih jika disertai dugaan tindakan represif terhadap peserta aksi.
“Peristiwa ini jadi perhatian serius bagi kami dan mempertanyakan bagaimana sebenarnya keamanan kami saat demo,” ujarnya.
Selain menyoroti tindakan aparat kepolisian, Amsari juga menyayangkan ketidakhadiran Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, untuk menemui mahasiswa yang berunjuk rasa.
Menurutnya, kepala daerah diharapkan dapat menemui mahasiswa untuk berdialog dan mendengarkan aspirasi yang disampaikan dalam demonstrasi tersebut.
BEM UIR Sampaikan Tuntutan
Atas peristiwa tersebut, BEM UIR menyampaikan sejumlah tuntutan terkait dugaan tindakan represif aparat kepolisian selama demonstrasi.
BEM UIR mengecam tindakan kepolisian yang disebut melakukan pembubaran massa aksi. Mereka meminta pemberian sanksi hingga pemecatan terhadap anggota kepolisian yang diduga melakukan kekerasan.
Selain itu, BEM UIR menuntut pihak kepolisian dan pemerintah memberikan bantuan moril dan materil kepada peserta demonstrasi yang menjadi korban.
Sebelumnya, bentrokan antara mahasiswa dan aparat kepolisian pecah di depan Kantor Gubernur Riau. Insiden ini menyebabkan salah satu Presiden Mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR), Muhammad Ramadhanu terjatuh dan mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
Bentrokan terjadi ketika massa aksi berupaya menerobos gerbang Kantor Gubernur Riau menggunakan mobil komando.
Di tengah ketegangan, mahasiswa mendesak Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto untuk keluar dan menemui massa secara langsung.
"Kami meminta Pak SF Hariyanto untuk keluar, jumpa dengan kami. Jangan jadi pengecut," ujar salah seorang mahasiswa dalam orasinya.
Namun, hingga pukul 17.00 WIB, massa aksi masih menunggu kehadiran SF Hariyanto. Desakan tersebut terus disuarakan mahasiswa yang menginginkan aspirasi mereka didengar secara langsung oleh pimpinan Pemerintah Provinsi Riau.
Terjatuhnya salah satu Presiden Mahasiswa UIR dalam bentrokan itu menjadi sorotan tersendiri. Usai bentrokan terjadi, massa aksi juga berupaya memblokade jalan di simpang Tugu Zapin. Situasi kemudian berangsur mereda setelah koordinator aksi meminta peserta demonstrasi untuk tetap kondusif. (har)