logo
● 4 Tersangka Baru Masuk Bui, Eks Anggota DPRD Kampar Terancam Dijemput Paksa Kasu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Pemko Pekanbaru Segera Bagikan Seragam Gratis untuk 20 Ribu Siswa SD dan SMP Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polsek Kubu Ungkap Dugaan Pencabulan Anak di Rokan Hilir, Satu Tersangka Diamank Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Pilpeng Rantau Panjang Kiri Berlangsung Tertib, Dua Kandidat Bersaing Rebut Kepe Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● SMK Pertanian Terpadu Pekanbaru Jadikan Budidaya Bebek Petelur sebagai Laborator Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Atlet Sepatu Roda Pekanbaru Borong 54 Medali di MIS Open 2026 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Bangun Kepercayaan Publik, Kejati Riau Pererat Komunikasi dengan Media Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kapolda Riau Rangkul Insan Pers, Dorong Kolaborasi Cegah Narkoba dan Konflik Sos Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Piala Dunia 2026
FIFA Pastikan Iran Tampil di Piala Dunia 2026
Presiden FIFA, Gianni Infantino. (Foto: FIFA)
FIFA Pastikan Iran Tampil di Piala Dunia 2026
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 1 Mei 2026 | 21:25:23

Pekanbaru - Presiden FIFA, Gianni Infantino, akhirnya angkat suara di tengah tekanan politik yang menguat. Ia memastikan Iran tetap menjadi peserta Piala Dunia FIFA 2026, menutup spekulasi soal kemungkinan pencoretan negara tersebut dari turnamen terbesar sepak bola dunia.

Pernyataan itu disampaikan di saat desakan datang dari berbagai pihak yang meminta FIFA mengambil sikap tegas terhadap Iran. Namun Infantino tidak memberi ruang abu-abu. Iran, kata dia, sudah lolos kualifikasi dan berhak tampil. Tidak ada indikasi perubahan keputusan, meski tensi geopolitik terus meningkat.

Sikap ini menegaskan garis lama FIFA: sepak bola tidak boleh tunduk pada tekanan politik. Dalam beberapa kesempatan, Infantino berulang kali menekankan bahwa turnamen global harus menjadi ruang yang menyatukan, bukan memperdalam perpecahan. Pernyataan itu kini diuji, ketika realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya—ketegangan antarnegara justru kian terbuka.

Keputusan mempertahankan Iran sebagai peserta juga membawa konsekuensi praktis. Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah akan menjadi panggung bagi tim yang selama ini berada dalam hubungan diplomatik yang rumit dengan Washington. Isu visa, keamanan, hingga potensi tekanan politik dipastikan akan mengiringi perjalanan tim tersebut menuju turnamen.

Di luar itu, tekanan dari kelompok advokasi belum mereda. Mereka menilai FIFA tidak bisa sepenuhnya menutup mata terhadap situasi politik dan isu hak asasi manusia. Namun hingga kini, badan sepak bola dunia itu tetap bergeming. Tidak ada sinyal bahwa kebijakan akan diubah.

Di titik ini, keputusan FIFA bukan sekadar soal sepak bola. Ini adalah pernyataan sikap. Bahwa di tengah tarik-menarik kepentingan global, organisasi tersebut memilih berdiri pada prinsip kompetisi—siapa yang lolos, dia yang bermain.

Home / News
FIFA Pastikan Iran Tampil di Piala Dunia 2026
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 1 Mei 2026 | 21:25:23
FIFA Pastikan Iran Tampil di Piala Dunia 2026
Presiden FIFA, Gianni Infantino. (Foto: FIFA)

Pekanbaru - Presiden FIFA, Gianni Infantino, akhirnya angkat suara di tengah tekanan politik yang menguat. Ia memastikan Iran tetap menjadi peserta Piala Dunia FIFA 2026, menutup spekulasi soal kemungkinan pencoretan negara tersebut dari turnamen terbesar sepak bola dunia.

Pernyataan itu disampaikan di saat desakan datang dari berbagai pihak yang meminta FIFA mengambil sikap tegas terhadap Iran. Namun Infantino tidak memberi ruang abu-abu. Iran, kata dia, sudah lolos kualifikasi dan berhak tampil. Tidak ada indikasi perubahan keputusan, meski tensi geopolitik terus meningkat.

Sikap ini menegaskan garis lama FIFA: sepak bola tidak boleh tunduk pada tekanan politik. Dalam beberapa kesempatan, Infantino berulang kali menekankan bahwa turnamen global harus menjadi ruang yang menyatukan, bukan memperdalam perpecahan. Pernyataan itu kini diuji, ketika realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya—ketegangan antarnegara justru kian terbuka.

Keputusan mempertahankan Iran sebagai peserta juga membawa konsekuensi praktis. Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah akan menjadi panggung bagi tim yang selama ini berada dalam hubungan diplomatik yang rumit dengan Washington. Isu visa, keamanan, hingga potensi tekanan politik dipastikan akan mengiringi perjalanan tim tersebut menuju turnamen.

Di luar itu, tekanan dari kelompok advokasi belum mereda. Mereka menilai FIFA tidak bisa sepenuhnya menutup mata terhadap situasi politik dan isu hak asasi manusia. Namun hingga kini, badan sepak bola dunia itu tetap bergeming. Tidak ada sinyal bahwa kebijakan akan diubah.

Di titik ini, keputusan FIFA bukan sekadar soal sepak bola. Ini adalah pernyataan sikap. Bahwa di tengah tarik-menarik kepentingan global, organisasi tersebut memilih berdiri pada prinsip kompetisi—siapa yang lolos, dia yang bermain.