
Pekanbaru - Presiden FIFA, Gianni Infantino, akhirnya angkat suara di tengah tekanan politik yang menguat. Ia memastikan Iran tetap menjadi peserta Piala Dunia FIFA 2026, menutup spekulasi soal kemungkinan pencoretan negara tersebut dari turnamen terbesar sepak bola dunia.
Pernyataan itu disampaikan di saat desakan datang dari berbagai pihak yang meminta FIFA mengambil sikap tegas terhadap Iran. Namun Infantino tidak memberi ruang abu-abu. Iran, kata dia, sudah lolos kualifikasi dan berhak tampil. Tidak ada indikasi perubahan keputusan, meski tensi geopolitik terus meningkat.
Sikap ini menegaskan garis lama FIFA: sepak bola tidak boleh tunduk pada tekanan politik. Dalam beberapa kesempatan, Infantino berulang kali menekankan bahwa turnamen global harus menjadi ruang yang menyatukan, bukan memperdalam perpecahan. Pernyataan itu kini diuji, ketika realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya—ketegangan antarnegara justru kian terbuka.
Keputusan mempertahankan Iran sebagai peserta juga membawa konsekuensi praktis. Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah akan menjadi panggung bagi tim yang selama ini berada dalam hubungan diplomatik yang rumit dengan Washington. Isu visa, keamanan, hingga potensi tekanan politik dipastikan akan mengiringi perjalanan tim tersebut menuju turnamen.
Di luar itu, tekanan dari kelompok advokasi belum mereda. Mereka menilai FIFA tidak bisa sepenuhnya menutup mata terhadap situasi politik dan isu hak asasi manusia. Namun hingga kini, badan sepak bola dunia itu tetap bergeming. Tidak ada sinyal bahwa kebijakan akan diubah.
Di titik ini, keputusan FIFA bukan sekadar soal sepak bola. Ini adalah pernyataan sikap. Bahwa di tengah tarik-menarik kepentingan global, organisasi tersebut memilih berdiri pada prinsip kompetisi—siapa yang lolos, dia yang bermain.







Pekanbaru - Presiden FIFA, Gianni Infantino, akhirnya angkat suara di tengah tekanan politik yang menguat. Ia memastikan Iran tetap menjadi peserta Piala Dunia FIFA 2026, menutup spekulasi soal kemungkinan pencoretan negara tersebut dari turnamen terbesar sepak bola dunia.
Pernyataan itu disampaikan di saat desakan datang dari berbagai pihak yang meminta FIFA mengambil sikap tegas terhadap Iran. Namun Infantino tidak memberi ruang abu-abu. Iran, kata dia, sudah lolos kualifikasi dan berhak tampil. Tidak ada indikasi perubahan keputusan, meski tensi geopolitik terus meningkat.
Sikap ini menegaskan garis lama FIFA: sepak bola tidak boleh tunduk pada tekanan politik. Dalam beberapa kesempatan, Infantino berulang kali menekankan bahwa turnamen global harus menjadi ruang yang menyatukan, bukan memperdalam perpecahan. Pernyataan itu kini diuji, ketika realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya—ketegangan antarnegara justru kian terbuka.
Keputusan mempertahankan Iran sebagai peserta juga membawa konsekuensi praktis. Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah akan menjadi panggung bagi tim yang selama ini berada dalam hubungan diplomatik yang rumit dengan Washington. Isu visa, keamanan, hingga potensi tekanan politik dipastikan akan mengiringi perjalanan tim tersebut menuju turnamen.
Di luar itu, tekanan dari kelompok advokasi belum mereda. Mereka menilai FIFA tidak bisa sepenuhnya menutup mata terhadap situasi politik dan isu hak asasi manusia. Namun hingga kini, badan sepak bola dunia itu tetap bergeming. Tidak ada sinyal bahwa kebijakan akan diubah.
Di titik ini, keputusan FIFA bukan sekadar soal sepak bola. Ini adalah pernyataan sikap. Bahwa di tengah tarik-menarik kepentingan global, organisasi tersebut memilih berdiri pada prinsip kompetisi—siapa yang lolos, dia yang bermain.