logo
CATATAN PIALA DUNIA 2026: Ketika Mimpi Besar Asia Kembali Berakhir Terlalu Cepat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sekolah Swasta Pekanbaru Menjerit, SPMB 2026 Sepi Pendaftar Imbas Daya Tampung N Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Produsen Mobil China Makin Menguasai Pasar Eropa, Industri Otomotif Jerman Terte Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Liburan Berujung Duka, Remaja Asal Pekanbaru Tewas Tenggelam di Pantai Gasan Gad Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Volkswagen Dikabarkan Siapkan PHK Hingga 100 Ribu Karyawan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Terlalu Gemuk: Prabowo Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan, 750 Akan Dit Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Komnas HAM Minta Latihan Militer Calon Manajer Koperasi Merah Putih Dihentikan U Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi MTQ Riau 2026 Dibuka di Kuansing, Syiar Al-Qur'an Berpadu dengan Pacu Jalur dan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
Dolar Tak Masuk Desa
Aktivitas masyarakat dan pedagang Pasar Palapa Pekanbaru.
Dolar Tak Masuk Desa
Editor: putrajaya | Penulis: rea
18 Mei 2026 | 10:00:14

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa rakyat desa tidak memakai dolar mungkin dimaksudkan sebagai obat penenang di tengah melemahnya rupiah. Dan memang benar. Petani di kampung tidak pergi ke sawah sambil membawa mata uang Amerika. Pedagang gorengan juga belum ada yang menempelkan tulisan "USD accepted".

Namun masalahnya, harga-harga rupanya tidak ikut mendengarkan pidato.

Dolar memang tidak beredar di warung desa. Tetapi bayangannya muncul di harga pupuk, pakan ternak, minyak goreng, hingga ongkos angkut yang diam-diam merangkak naik. Rakyat kecil mungkin tidak pernah melihat lembaran dolar secara langsung, tetapi mereka sangat akrab dengan kalimat, "kok naik lagi?"

Dan biasanya, kalimat itu datang lebih cepat daripada bantuan apa pun.

iklan-view

Pernyataan bahwa masyarakat desa tidak memakai dolar terdengar menenangkan, setidaknya di permukaan. Sama seperti mengatakan nelayan tidak menggunakan harga minyak dunia saat melaut. Secara teknis mungkin benar. Tetapi kehidupan sehari-hari tidak berjalan berdasarkan teknis pidato. Karena ia berjalan berdasarkan harga pasar.

Ketika rupiah melemah hingga menyentuh kisaran Rp17 ribuan per dolar AS, dampaknya memang tidak langsung jatuh dari langit ke dapur rakyat. Ia datang sangat perlahan, lewat jalur yang lebih halus. Mulai dari biaya impor yang naik, bahan baku yang mahal, ongkos distribusi yang membengkak, lalu berakhir di rak-rak warung kecil yang mulai mengganti angka pada label harga.

Dan seperti biasa, yang pertama kali harus menyesuaikan diri adalah rakyat kecil.

Mereka bukan kelompok yang sibuk memantau kurs dolar setiap pagi. Namun mereka tahu persis kapan harga beras berubah. Mereka juga hafal kapan cabai mulai menyentuh angka yang membuat pedagang dan pembeli sama-sama mengelus dada. Mereka mungkin tidak membaca laporan ekonomi global, akan tetapi mereka sangat paham ketika uang jatah belanja tak lagi cukup sampai akhir pekan.

Karena itu, kekhawatiran publik terhadap rupiah sebenarnya bukanlah soal panik berlebihan. Ini soal pengalaman. Setiap kali mata uang melemah, rakyat sudah tahu siapa yang akhirnya diminta berhemat.

Dan menariknya, yang paling jarang diminta berhemat justru mereka yang paling sering meminta rakyat tenang.

Indonesia memang belum collapse seperti yang dikhawatirkan banyak orang. Pangan masih tersedia, energi masih berjalan, dan aktivitas ekonomi tetap bergerak. Tetapi menjaga optimisme tidak harus dilakukan dengan menyederhanakan persoalan. Sebab, rakyat hari ini tidak hanya butuh ditenangkan. Mereka juga ingin merasa bahwa keresahan mereka dipahami. *

Tags: prabowo dolar
Dolar Tak Masuk Desa
Editor: putrajaya | Penulis: rea
Rubrik: editorial | 18 Mei 2026 | 10:00:14
Dolar Tak Masuk Desa
Aktivitas masyarakat dan pedagang Pasar Palapa Pekanbaru.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa rakyat desa tidak memakai dolar mungkin dimaksudkan sebagai obat penenang di tengah melemahnya rupiah. Dan memang benar. Petani di kampung tidak pergi ke sawah sambil membawa mata uang Amerika. Pedagang gorengan juga belum ada yang menempelkan tulisan "USD accepted".

Namun masalahnya, harga-harga rupanya tidak ikut mendengarkan pidato.

Dolar memang tidak beredar di warung desa. Tetapi bayangannya muncul di harga pupuk, pakan ternak, minyak goreng, hingga ongkos angkut yang diam-diam merangkak naik. Rakyat kecil mungkin tidak pernah melihat lembaran dolar secara langsung, tetapi mereka sangat akrab dengan kalimat, "kok naik lagi?"

Dan biasanya, kalimat itu datang lebih cepat daripada bantuan apa pun.

Pernyataan bahwa masyarakat desa tidak memakai dolar terdengar menenangkan, setidaknya di permukaan. Sama seperti mengatakan nelayan tidak menggunakan harga minyak dunia saat melaut. Secara teknis mungkin benar. Tetapi kehidupan sehari-hari tidak berjalan berdasarkan teknis pidato. Karena ia berjalan berdasarkan harga pasar.

Ketika rupiah melemah hingga menyentuh kisaran Rp17 ribuan per dolar AS, dampaknya memang tidak langsung jatuh dari langit ke dapur rakyat. Ia datang sangat perlahan, lewat jalur yang lebih halus. Mulai dari biaya impor yang naik, bahan baku yang mahal, ongkos distribusi yang membengkak, lalu berakhir di rak-rak warung kecil yang mulai mengganti angka pada label harga.

Dan seperti biasa, yang pertama kali harus menyesuaikan diri adalah rakyat kecil.

Mereka bukan kelompok yang sibuk memantau kurs dolar setiap pagi. Namun mereka tahu persis kapan harga beras berubah. Mereka juga hafal kapan cabai mulai menyentuh angka yang membuat pedagang dan pembeli sama-sama mengelus dada. Mereka mungkin tidak membaca laporan ekonomi global, akan tetapi mereka sangat paham ketika uang jatah belanja tak lagi cukup sampai akhir pekan.

Karena itu, kekhawatiran publik terhadap rupiah sebenarnya bukanlah soal panik berlebihan. Ini soal pengalaman. Setiap kali mata uang melemah, rakyat sudah tahu siapa yang akhirnya diminta berhemat.

Dan menariknya, yang paling jarang diminta berhemat justru mereka yang paling sering meminta rakyat tenang.

Indonesia memang belum collapse seperti yang dikhawatirkan banyak orang. Pangan masih tersedia, energi masih berjalan, dan aktivitas ekonomi tetap bergerak. Tetapi menjaga optimisme tidak harus dilakukan dengan menyederhanakan persoalan. Sebab, rakyat hari ini tidak hanya butuh ditenangkan. Mereka juga ingin merasa bahwa keresahan mereka dipahami. *

Tags: prabowo dolar