
MAKKAH — Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI menemukan sejumlah persoalan serius yang dialami jemaah haji Indonesia menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Mulai dari keterlambatan bus penjemput hingga distribusi konsumsi yang bermasalah menjadi sorotan utama.
Anggota Timwas Haji DPR RI, Nasir Djamil, mengatakan temuan tersebut diperoleh saat melakukan pemantauan langsung di Maktab 602, Makkah. Ia menyebut persoalan layanan itu bukan kali pertama terjadi dan terus berulang hampir setiap musim haji.
“Kami menemukan bus penjemput jemaah terlambat datang. Selain itu, distribusi makanan juga bermasalah, ada yang terlambat dibagikan bahkan ada jemaah yang sama sekali belum menerima konsumsi,” ujar Nasir Djamil, Rabu (27/5/2026).
Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele karena berdampak langsung terhadap kondisi fisik dan kenyamanan jemaah yang akan menghadapi rangkaian ibadah berat di Armuzna.

Nasir menilai pengelolaan haji dengan jumlah jemaah yang sangat besar memang memiliki tantangan kompleks. Namun, pengalaman panjang Indonesia sebagai negara pengirim jemaah haji terbesar di dunia seharusnya membuat berbagai persoalan teknis bisa diantisipasi lebih baik.
“Mengurus ratusan ribu jemaah memang bukan pekerjaan mudah. Tapi pengalaman bertahun-tahun mestinya menjadi bahan evaluasi agar masalah yang sama tidak terus terulang,” katanya.
Timwas Haji DPR RI pun meminta pemerintah bersama penyelenggara haji segera melakukan pembenahan cepat, terutama pada sektor transportasi dan distribusi konsumsi yang dinilai masih menjadi titik lemah pelayanan.
Sorotan tersebut muncul di tengah padatnya aktivitas jemaah menuju fase puncak ibadah haji. Sebelumnya, otoritas Arab Saudi bersama Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) juga telah menerapkan sejumlah kebijakan pengamanan akibat cuaca ekstrem di Tanah Suci.
Salah satunya dengan membatasi aktivitas lempar jumrah pada pukul 10.00 hingga 14.00 waktu Arab Saudi karena suhu udara dilaporkan menembus lebih dari 45 derajat Celsius.
Pemerintah Indonesia terus mengimbau seluruh jemaah agar menjaga kesehatan, mematuhi arahan petugas, serta tidak memaksakan diri selama menjalani rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. (akt)






MAKKAH — Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI menemukan sejumlah persoalan serius yang dialami jemaah haji Indonesia menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Mulai dari keterlambatan bus penjemput hingga distribusi konsumsi yang bermasalah menjadi sorotan utama.
Anggota Timwas Haji DPR RI, Nasir Djamil, mengatakan temuan tersebut diperoleh saat melakukan pemantauan langsung di Maktab 602, Makkah. Ia menyebut persoalan layanan itu bukan kali pertama terjadi dan terus berulang hampir setiap musim haji.
“Kami menemukan bus penjemput jemaah terlambat datang. Selain itu, distribusi makanan juga bermasalah, ada yang terlambat dibagikan bahkan ada jemaah yang sama sekali belum menerima konsumsi,” ujar Nasir Djamil, Rabu (27/5/2026).
Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele karena berdampak langsung terhadap kondisi fisik dan kenyamanan jemaah yang akan menghadapi rangkaian ibadah berat di Armuzna.
Nasir menilai pengelolaan haji dengan jumlah jemaah yang sangat besar memang memiliki tantangan kompleks. Namun, pengalaman panjang Indonesia sebagai negara pengirim jemaah haji terbesar di dunia seharusnya membuat berbagai persoalan teknis bisa diantisipasi lebih baik.
“Mengurus ratusan ribu jemaah memang bukan pekerjaan mudah. Tapi pengalaman bertahun-tahun mestinya menjadi bahan evaluasi agar masalah yang sama tidak terus terulang,” katanya.
Timwas Haji DPR RI pun meminta pemerintah bersama penyelenggara haji segera melakukan pembenahan cepat, terutama pada sektor transportasi dan distribusi konsumsi yang dinilai masih menjadi titik lemah pelayanan.
Sorotan tersebut muncul di tengah padatnya aktivitas jemaah menuju fase puncak ibadah haji. Sebelumnya, otoritas Arab Saudi bersama Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) juga telah menerapkan sejumlah kebijakan pengamanan akibat cuaca ekstrem di Tanah Suci.
Salah satunya dengan membatasi aktivitas lempar jumrah pada pukul 10.00 hingga 14.00 waktu Arab Saudi karena suhu udara dilaporkan menembus lebih dari 45 derajat Celsius.
Pemerintah Indonesia terus mengimbau seluruh jemaah agar menjaga kesehatan, mematuhi arahan petugas, serta tidak memaksakan diri selama menjalani rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. (akt)