logo
Ledakan Dahsyat Hancurkan Desa di Perbatasan Myanmar-China, 55 Orang Tewas dan P Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sempat Tertekan, Rupiah Berbalik Menguat ke Rp17.805 per Dolar AS Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kobaran Api Meluas ke Sejumlah Wilayah, 11 Daerah di Riau Naikkan Status Siaga D Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ketahanan Pangan Dimulai dari Lingkungan Terkecil, Polisi Datangi Peternak dan P Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Jalan Rambutan Pekanbaru Dibangun Total, Warga Tak Lagi Khawatir Lewati Ruas yan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pemkab Siak Akhirnya Ikuti Arahan Pusat, Jadwal WFH ASN Digeser dari Rabu ke Jum Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kasus Korupsi Kuota Haji Rp622 Miliar: KPK Jebloskan Dua Tersangka Baru ke Rutan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Saat Harga Emas Turun Tipis, Apakah Ini Momentum Terbaik untuk Mulai Investasi? Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Keuangan
Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.150 per Dolar AS, Pemerintah Tetap Optimistis Akan Menguat
Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi (kiri) dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.150 per Dolar AS, Pemerintah Tetap Optimistis Akan Menguat
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
31 Mei 2026 | 21:13:47

JAKARTA – Nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan dan diperkirakan akan kembali melemah pada pekan pertama Juni 2026. Namun di tengah sentimen negatif global tersebut, pemerintah tetap optimistis mata uang Garuda akan kembali menguat seiring kuatnya fundamental ekonomi nasional.

Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah berpotensi menembus level Rp18.150 per dolar AS dalam waktu dekat. Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah tercatat melemah 35 poin ke posisi Rp17.880 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.845.

Menurut Ibrahim, penguatan dolar AS dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik, terutama konflik yang belum sepenuhnya mereda di kawasan Selat Hormuz. Meski ada harapan tercapainya kesepakatan damai yang disebut berada di tangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, gangguan terhadap jalur pelayaran internasional masih terjadi dan berpotensi menekan rantai pasok global.

Kondisi tersebut dinilai dapat mempertahankan tekanan inflasi dunia, khususnya di Amerika Serikat. Akibatnya, Bank Sentral AS diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan. Situasi ini membuat dolar AS semakin menarik bagi investor dan mendorong mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada dalam tekanan.

iklan-view

Selain itu, ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di Eropa antara Rusia dan Ukraina serta konflik di Timur Tengah diperkirakan akan terus memengaruhi pergerakan pasar keuangan global, termasuk harga emas dan nilai tukar mata uang.

Meski demikian, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pandangan berbeda. Ia meyakini pelemahan rupiah saat ini hanya bersifat sementara dan akan berbalik menguat seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (31/5/2026), Purbaya menegaskan pemerintah telah menghitung dampak depresiasi rupiah terhadap anggaran negara dan memastikan kondisi fiskal masih aman.

“Anggaran negara masih dalam kondisi aman meskipun rupiah melemah hingga level sekarang,” ujarnya.

Purbaya menilai kekuatan ekonomi domestik menjadi faktor utama yang akan menopang penguatan rupiah dalam jangka menengah dan panjang. Pada kuartal I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen, salah satu yang tertinggi di kelompok negara G20 setelah India.

Menurutnya, pertumbuhan tersebut akan menjadi daya tarik bagi investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia. Arus investasi yang kuat diyakini akan memberikan dukungan terhadap stabilitas dan penguatan nilai tukar rupiah ke depan.

Dengan demikian, rupiah saat ini berada di antara dua tekanan yang berlawanan. Di satu sisi, gejolak geopolitik global dan kebijakan suku bunga tinggi AS masih membayangi pergerakannya. Namun di sisi lain, pemerintah menaruh keyakinan besar bahwa fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat akan menjadi penopang utama bagi pemulihan nilai tukar rupiah dalam waktu mendatang. (ivt/rep)

Home / Ekonomi
Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.150 per Dolar AS, Pemerintah Tetap Optimistis Akan Menguat
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 31 Mei 2026 | 21:13:47
Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.150 per Dolar AS, Pemerintah Tetap Optimistis Akan Menguat
Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi (kiri) dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan dan diperkirakan akan kembali melemah pada pekan pertama Juni 2026. Namun di tengah sentimen negatif global tersebut, pemerintah tetap optimistis mata uang Garuda akan kembali menguat seiring kuatnya fundamental ekonomi nasional.

Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah berpotensi menembus level Rp18.150 per dolar AS dalam waktu dekat. Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah tercatat melemah 35 poin ke posisi Rp17.880 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.845.

Menurut Ibrahim, penguatan dolar AS dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik, terutama konflik yang belum sepenuhnya mereda di kawasan Selat Hormuz. Meski ada harapan tercapainya kesepakatan damai yang disebut berada di tangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, gangguan terhadap jalur pelayaran internasional masih terjadi dan berpotensi menekan rantai pasok global.

Kondisi tersebut dinilai dapat mempertahankan tekanan inflasi dunia, khususnya di Amerika Serikat. Akibatnya, Bank Sentral AS diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan. Situasi ini membuat dolar AS semakin menarik bagi investor dan mendorong mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada dalam tekanan.

Selain itu, ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di Eropa antara Rusia dan Ukraina serta konflik di Timur Tengah diperkirakan akan terus memengaruhi pergerakan pasar keuangan global, termasuk harga emas dan nilai tukar mata uang.

Meski demikian, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pandangan berbeda. Ia meyakini pelemahan rupiah saat ini hanya bersifat sementara dan akan berbalik menguat seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (31/5/2026), Purbaya menegaskan pemerintah telah menghitung dampak depresiasi rupiah terhadap anggaran negara dan memastikan kondisi fiskal masih aman.

“Anggaran negara masih dalam kondisi aman meskipun rupiah melemah hingga level sekarang,” ujarnya.

Purbaya menilai kekuatan ekonomi domestik menjadi faktor utama yang akan menopang penguatan rupiah dalam jangka menengah dan panjang. Pada kuartal I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen, salah satu yang tertinggi di kelompok negara G20 setelah India.

Menurutnya, pertumbuhan tersebut akan menjadi daya tarik bagi investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia. Arus investasi yang kuat diyakini akan memberikan dukungan terhadap stabilitas dan penguatan nilai tukar rupiah ke depan.

Dengan demikian, rupiah saat ini berada di antara dua tekanan yang berlawanan. Di satu sisi, gejolak geopolitik global dan kebijakan suku bunga tinggi AS masih membayangi pergerakannya. Namun di sisi lain, pemerintah menaruh keyakinan besar bahwa fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat akan menjadi penopang utama bagi pemulihan nilai tukar rupiah dalam waktu mendatang. (ivt/rep)