
JAKARTA – Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran dengan menghantam sejumlah situs radar pantai di Goruk dan Pulau Qeshm. Serangan dilakukan setelah pasukan AS menembak jatuh empat drone Iran yang disebut mengarah ke kawasan strategis Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, Sabtu (6/6/2026), Komando Sentral AS menilai drone-drone tersebut berpotensi mengancam lalu lintas maritim di kawasan yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia. Sebagai respons, Washington langsung menargetkan fasilitas pengawasan milik Iran.
Aksi militer terbaru ini terjadi ketika kedua negara masih menjalani negosiasi tidak langsung untuk mencari jalan keluar dari perang yang telah berlangsung hampir empat bulan.

Dalam perundingan tersebut, Teheran menuntut akses kembali terhadap pendapatan minyak bernilai miliaran dolar, pencabutan sanksi ekspor minyak, pembukaan blokade pelabuhan, serta pemulihan kendali atas Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan politik di dalam negeri akibat tingginya harga bahan bakar. Meski mengklaim sebagian besar fasilitas produksi drone Iran telah dihancurkan, Trump menyebut Teheran masih memiliki sekitar 20 persen persediaan rudalnya.
“Mereka masih memiliki sejumlah rudal dan drone. Jumlahnya memang jauh berkurang dibanding saat konflik dimulai, tetapi tetap merupakan kekuatan yang signifikan,” kata Trump dalam wawancara dengan NBC News.
Trump menilai Iran belum segera menerima kesepakatan damai karena faktor kebanggaan nasional dan keinginan untuk mempertahankan posisi tawar mereka dalam perundingan.
Konflik yang dipicu serangan gabungan Israel dan AS terhadap Iran pada akhir Februari lalu terus meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah. Meski beberapa kali diupayakan gencatan senjata, pertempuran masih berlangsung di sejumlah front.
Di Lebanon selatan, kelompok Hezbollah mengklaim melakukan dua serangan terhadap pasukan Israel. Iran tetap menyatakan dukungan kepada kelompok tersebut dan menuntut penarikan pasukan Israel dari Lebanon sebagai salah satu syarat utama menuju kesepakatan damai dengan Washington.
Sementara itu, pemimpin Hezbollah Naim Qassem menolak rancangan pakta perdamaian yang dimediasi AS karena tidak memuat klausul penarikan pasukan Israel dan tidak melibatkan Hezbollah dalam proses perundingan.
Israel sendiri masih mempertahankan operasi militernya di Lebanon selatan. Sikap itu memicu ketegangan diplomatik baru, termasuk dengan Amerika Serikat yang tengah berupaya mendorong penyelesaian konflik.
Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri menegaskan Hezbollah bersedia mundur dari Lebanon selatan jika Israel secara bersamaan menarik seluruh pasukannya dari wilayah yang diduduki.
Selain Lebanon, dampak konflik juga dirasakan di Gaza, Israel utara, hingga Kuwait. Meski terdapat sejumlah kesepakatan gencatan senjata, situasi keamanan di kawasan masih jauh dari stabil dan ancaman eskalasi tetap membayangi Timur Tengah. (cnbc)


JAKARTA – Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran dengan menghantam sejumlah situs radar pantai di Goruk dan Pulau Qeshm. Serangan dilakukan setelah pasukan AS menembak jatuh empat drone Iran yang disebut mengarah ke kawasan strategis Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, Sabtu (6/6/2026), Komando Sentral AS menilai drone-drone tersebut berpotensi mengancam lalu lintas maritim di kawasan yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia. Sebagai respons, Washington langsung menargetkan fasilitas pengawasan milik Iran.
Aksi militer terbaru ini terjadi ketika kedua negara masih menjalani negosiasi tidak langsung untuk mencari jalan keluar dari perang yang telah berlangsung hampir empat bulan.
Dalam perundingan tersebut, Teheran menuntut akses kembali terhadap pendapatan minyak bernilai miliaran dolar, pencabutan sanksi ekspor minyak, pembukaan blokade pelabuhan, serta pemulihan kendali atas Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan politik di dalam negeri akibat tingginya harga bahan bakar. Meski mengklaim sebagian besar fasilitas produksi drone Iran telah dihancurkan, Trump menyebut Teheran masih memiliki sekitar 20 persen persediaan rudalnya.
“Mereka masih memiliki sejumlah rudal dan drone. Jumlahnya memang jauh berkurang dibanding saat konflik dimulai, tetapi tetap merupakan kekuatan yang signifikan,” kata Trump dalam wawancara dengan NBC News.
Trump menilai Iran belum segera menerima kesepakatan damai karena faktor kebanggaan nasional dan keinginan untuk mempertahankan posisi tawar mereka dalam perundingan.
Konflik yang dipicu serangan gabungan Israel dan AS terhadap Iran pada akhir Februari lalu terus meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah. Meski beberapa kali diupayakan gencatan senjata, pertempuran masih berlangsung di sejumlah front.
Di Lebanon selatan, kelompok Hezbollah mengklaim melakukan dua serangan terhadap pasukan Israel. Iran tetap menyatakan dukungan kepada kelompok tersebut dan menuntut penarikan pasukan Israel dari Lebanon sebagai salah satu syarat utama menuju kesepakatan damai dengan Washington.
Sementara itu, pemimpin Hezbollah Naim Qassem menolak rancangan pakta perdamaian yang dimediasi AS karena tidak memuat klausul penarikan pasukan Israel dan tidak melibatkan Hezbollah dalam proses perundingan.
Israel sendiri masih mempertahankan operasi militernya di Lebanon selatan. Sikap itu memicu ketegangan diplomatik baru, termasuk dengan Amerika Serikat yang tengah berupaya mendorong penyelesaian konflik.
Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri menegaskan Hezbollah bersedia mundur dari Lebanon selatan jika Israel secara bersamaan menarik seluruh pasukannya dari wilayah yang diduduki.
Selain Lebanon, dampak konflik juga dirasakan di Gaza, Israel utara, hingga Kuwait. Meski terdapat sejumlah kesepakatan gencatan senjata, situasi keamanan di kawasan masih jauh dari stabil dan ancaman eskalasi tetap membayangi Timur Tengah. (cnbc)