logo
UPDATE: Tangis di Laut Madura, Lima Penumpang KMP Mutiara Sentosa II Tewas, 225 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi UPDATE: Gempa Kumamoto Makin Mematikan, Korban Tewas Capai 38 Orang, KBRI Berger Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pemutihan Pajak Kendaraan Riau Dimulai, Tunggakan Bertahun-tahun Cukup Bayar Dua Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kasus Pilot Malaysia Airlines: Positif Tiga Jenis Narkoba, Bawa Urine Cadangan u Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kapal Surabaya-Makassar Terbakar di Laut Jawa, Operasi Penyelamatan Ratusan Penu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Bupati Pemalang Terjaring OTT di Hotel, KPK Selidiki Keterlibatan Wanita Pendamp Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BGN Hentikan Sementara Operasional Dapur MBG di Semarang Usai Ratusan Siswa Didu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BK DPRD Riau Segera Putuskan Sanksi Dua Anggota yang Bentrok, Publik Menanti Ket Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Keuangan
Utang Makin Mahal, Pajak Tak Bisa Dinaikkan, Chatib Basri: Belanja Negara Harus Dipangkas
Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri.
Utang Makin Mahal, Pajak Tak Bisa Dinaikkan, Chatib Basri: Belanja Negara Harus Dipangkas
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
9 Juni 2026 | 13:34:41

JAKARTA – Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, menilai tugas Menteri Keuangan pada dasarnya sangat sederhana. Dalam menghadapi tekanan fiskal, pemerintah hanya memiliki tiga pilihan utama: meningkatkan penerimaan negara, memangkas belanja, atau menambah utang.

Namun di tengah perlambatan ekonomi global, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta potensi kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, ketiga opsi tersebut tidak mudah dijalankan.

"Sebetulnya tugas Menteri Keuangan itu sangat gampang. Dia hanya punya tiga opsi, naikkan, potong, atau pinjam," kata Chatib dalam Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

iklan-view

Menurutnya, apabila penerimaan negara tidak bisa ditingkatkan, pemerintah harus mengurangi pengeluaran. Jika pengeluaran juga tidak bisa ditekan, maka satu-satunya jalan adalah menambah utang.

"Kalau tidak bisa naikkan, maka harus potong. Kalau tidak bisa potong, ya harus pinjam. Sesederhana itu," ujarnya.

Meski demikian, Chatib menilai menaikkan pajak bukan langkah yang realistis dalam kondisi ekonomi saat ini. Kebijakan tersebut justru berisiko memperberat dunia usaha dan menekan daya beli masyarakat yang masih menghadapi tantangan.

Di sisi lain, menambah utang juga bukan pilihan ideal. Tingginya suku bunga global membuat biaya pinjaman menjadi semakin mahal dan berpotensi membebani keuangan negara.

"Siapa yang mau pinjam uang sekarang? Cost-nya sangat mahal," katanya.

Karena itu, Chatib menilai langkah yang paling rasional saat ini adalah melakukan rasionalisasi atau pemangkasan belanja negara secara selektif. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga kredibilitas fiskal sekaligus meredakan kekhawatiran pasar.

Ia menegaskan, kekhawatiran investor saat ini lebih banyak tertuju pada keberlanjutan fiskal pemerintah dibandingkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia secara umum.

Sebagai indikator, Chatib menyoroti kenaikan credit default swap (CDS) Indonesia sejak awal tahun. Kenaikan premi risiko tersebut bahkan sudah terjadi sebelum memanasnya konflik terbaru di Timur Tengah.

Menurut perhitungannya, sekitar 23 persen pelemahan nilai tukar rupiah dapat dijelaskan oleh meningkatnya risiko fiskal yang tercermin dalam kenaikan CDS.

"Artinya persoalan kita sekarang adalah confidence risk. Kalau isu ini bisa diatasi, ada harapan kondisi dapat diperbaiki," ujarnya.

Chatib juga mengingatkan bahwa kemampuan pemerintah untuk menambah utang tidak semata-mata diukur dari rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB). Yang tak kalah penting adalah kemampuan penerimaan negara dalam membayar bunga dan cicilan utang.

Dengan rasio pajak yang masih relatif rendah, ia menilai ruang fiskal Indonesia cukup terbatas. Karena itu, pemerintah perlu ekstra hati-hati dalam mengelola belanja dan pembiayaan negara agar kepercayaan investor tetap terjaga. (cnn)

Home / Ekonomi
Utang Makin Mahal, Pajak Tak Bisa Dinaikkan, Chatib Basri: Belanja Negara Harus Dipangkas
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 9 Juni 2026 | 13:34:41
Utang Makin Mahal, Pajak Tak Bisa Dinaikkan, Chatib Basri: Belanja Negara Harus Dipangkas
Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri.

JAKARTA – Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, menilai tugas Menteri Keuangan pada dasarnya sangat sederhana. Dalam menghadapi tekanan fiskal, pemerintah hanya memiliki tiga pilihan utama: meningkatkan penerimaan negara, memangkas belanja, atau menambah utang.

Namun di tengah perlambatan ekonomi global, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta potensi kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, ketiga opsi tersebut tidak mudah dijalankan.

"Sebetulnya tugas Menteri Keuangan itu sangat gampang. Dia hanya punya tiga opsi, naikkan, potong, atau pinjam," kata Chatib dalam Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, apabila penerimaan negara tidak bisa ditingkatkan, pemerintah harus mengurangi pengeluaran. Jika pengeluaran juga tidak bisa ditekan, maka satu-satunya jalan adalah menambah utang.

"Kalau tidak bisa naikkan, maka harus potong. Kalau tidak bisa potong, ya harus pinjam. Sesederhana itu," ujarnya.

Meski demikian, Chatib menilai menaikkan pajak bukan langkah yang realistis dalam kondisi ekonomi saat ini. Kebijakan tersebut justru berisiko memperberat dunia usaha dan menekan daya beli masyarakat yang masih menghadapi tantangan.

Di sisi lain, menambah utang juga bukan pilihan ideal. Tingginya suku bunga global membuat biaya pinjaman menjadi semakin mahal dan berpotensi membebani keuangan negara.

"Siapa yang mau pinjam uang sekarang? Cost-nya sangat mahal," katanya.

Karena itu, Chatib menilai langkah yang paling rasional saat ini adalah melakukan rasionalisasi atau pemangkasan belanja negara secara selektif. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga kredibilitas fiskal sekaligus meredakan kekhawatiran pasar.

Ia menegaskan, kekhawatiran investor saat ini lebih banyak tertuju pada keberlanjutan fiskal pemerintah dibandingkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia secara umum.

Sebagai indikator, Chatib menyoroti kenaikan credit default swap (CDS) Indonesia sejak awal tahun. Kenaikan premi risiko tersebut bahkan sudah terjadi sebelum memanasnya konflik terbaru di Timur Tengah.

Menurut perhitungannya, sekitar 23 persen pelemahan nilai tukar rupiah dapat dijelaskan oleh meningkatnya risiko fiskal yang tercermin dalam kenaikan CDS.

"Artinya persoalan kita sekarang adalah confidence risk. Kalau isu ini bisa diatasi, ada harapan kondisi dapat diperbaiki," ujarnya.

Chatib juga mengingatkan bahwa kemampuan pemerintah untuk menambah utang tidak semata-mata diukur dari rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB). Yang tak kalah penting adalah kemampuan penerimaan negara dalam membayar bunga dan cicilan utang.

Dengan rasio pajak yang masih relatif rendah, ia menilai ruang fiskal Indonesia cukup terbatas. Karena itu, pemerintah perlu ekstra hati-hati dalam mengelola belanja dan pembiayaan negara agar kepercayaan investor tetap terjaga. (cnn)