
Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Semarang menyusul dugaan keracunan yang dialami ratusan siswa. Langkah tersebut diambil hingga proses investigasi dan pemeriksaan laboratorium selesai dilakukan.
Kepala BGN, Sudaryono, mengatakan pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut. Menurutnya, seluruh dugaan penyebab masih dalam tahap penyelidikan.

Sudaryono mengaku telah mengunjungi Rumah Sakit Panti Wiloso Citarum, Semarang, guna memastikan kondisi para siswa yang menjalani perawatan. Berdasarkan data sementara, sekitar 700 siswa dilaporkan terdampak, namun hanya sebagian kecil yang mengalami gejala seperti mual dan diare hingga membutuhkan penanganan medis.
"Dari sekitar 700 siswa yang terdampak, sebanyak 13 orang menjalani perawatan. Sebagian dirawat di rumah sakit dan sebagian lainnya di puskesmas. Alhamdulillah, kondisi mereka sudah membaik," ujar Sudaryono, Ahad (2/8/2026).
Ia menegaskan, kasus serupa tidak boleh kembali terjadi. Menurutnya, setiap dapur penyedia makanan MBG telah memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang mengatur seluruh tahapan pengolahan makanan, mulai dari proses memasak hingga pendistribusian.
"Kalau seluruh SOP dijalankan dengan benar, seharusnya kejadian seperti ini bisa dicegah. Semua sudah diatur, mulai dari waktu memasak, jenis makanan yang boleh disajikan, hingga proses distribusinya. Tinggal dipatuhi dengan disiplin," katanya.
Terkait dugaan penyebab keracunan, Sudaryono menyebut investigasi sementara mengarah pada beberapa bahan makanan yang saat ini masih diperiksa oleh laboratorium Dinas Kesehatan. Di antaranya daun singkong, bumbu rendang, dan sejumlah bahan lainnya.
"Kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Prosesnya diperkirakan memerlukan waktu sekitar lima hingga tujuh hari agar penyebabnya dapat dipastikan," ujarnya.
Selain faktor bahan makanan, BGN juga menduga waktu memasak yang terlalu awal menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas makanan sebelum dikonsumsi siswa. Berdasarkan hasil evaluasi sementara, proses memasak dimulai sejak pagi dan makanan baru didistribusikan beberapa jam kemudian.
"Diduga makanan dimasak terlalu cepat sehingga saat sampai ke sekolah kualitasnya sudah menurun. Sementara sekolah yang menerima lebih awal mendapatkan makanan yang masih lebih segar," jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, BGN kini mempercepat penerapan sistem digital di seluruh dapur MBG. Sistem tersebut akan mencatat setiap tahapan pengolahan makanan secara rinci, mulai dari persiapan bahan, waktu memasak, hingga proses penyajian dan distribusi.
"Kami sedang mempercepat penggunaan sistem digital di seluruh dapur. Nantinya seluruh aktivitas akan terekam, mulai dari kapan bahan dipotong, kapan dimasak, hingga bumbu apa saja yang digunakan. Dengan begitu, orang tua, sekolah, maupun Dinas Kesehatan dapat melakukan pemantauan secara lebih transparan," kata Sudaryono.


Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Semarang menyusul dugaan keracunan yang dialami ratusan siswa. Langkah tersebut diambil hingga proses investigasi dan pemeriksaan laboratorium selesai dilakukan.
Kepala BGN, Sudaryono, mengatakan pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut. Menurutnya, seluruh dugaan penyebab masih dalam tahap penyelidikan.
Sudaryono mengaku telah mengunjungi Rumah Sakit Panti Wiloso Citarum, Semarang, guna memastikan kondisi para siswa yang menjalani perawatan. Berdasarkan data sementara, sekitar 700 siswa dilaporkan terdampak, namun hanya sebagian kecil yang mengalami gejala seperti mual dan diare hingga membutuhkan penanganan medis.
"Dari sekitar 700 siswa yang terdampak, sebanyak 13 orang menjalani perawatan. Sebagian dirawat di rumah sakit dan sebagian lainnya di puskesmas. Alhamdulillah, kondisi mereka sudah membaik," ujar Sudaryono, Ahad (2/8/2026).
Ia menegaskan, kasus serupa tidak boleh kembali terjadi. Menurutnya, setiap dapur penyedia makanan MBG telah memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang mengatur seluruh tahapan pengolahan makanan, mulai dari proses memasak hingga pendistribusian.
"Kalau seluruh SOP dijalankan dengan benar, seharusnya kejadian seperti ini bisa dicegah. Semua sudah diatur, mulai dari waktu memasak, jenis makanan yang boleh disajikan, hingga proses distribusinya. Tinggal dipatuhi dengan disiplin," katanya.
Terkait dugaan penyebab keracunan, Sudaryono menyebut investigasi sementara mengarah pada beberapa bahan makanan yang saat ini masih diperiksa oleh laboratorium Dinas Kesehatan. Di antaranya daun singkong, bumbu rendang, dan sejumlah bahan lainnya.
"Kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Prosesnya diperkirakan memerlukan waktu sekitar lima hingga tujuh hari agar penyebabnya dapat dipastikan," ujarnya.
Selain faktor bahan makanan, BGN juga menduga waktu memasak yang terlalu awal menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas makanan sebelum dikonsumsi siswa. Berdasarkan hasil evaluasi sementara, proses memasak dimulai sejak pagi dan makanan baru didistribusikan beberapa jam kemudian.
"Diduga makanan dimasak terlalu cepat sehingga saat sampai ke sekolah kualitasnya sudah menurun. Sementara sekolah yang menerima lebih awal mendapatkan makanan yang masih lebih segar," jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, BGN kini mempercepat penerapan sistem digital di seluruh dapur MBG. Sistem tersebut akan mencatat setiap tahapan pengolahan makanan secara rinci, mulai dari persiapan bahan, waktu memasak, hingga proses penyajian dan distribusi.
"Kami sedang mempercepat penggunaan sistem digital di seluruh dapur. Nantinya seluruh aktivitas akan terekam, mulai dari kapan bahan dipotong, kapan dimasak, hingga bumbu apa saja yang digunakan. Dengan begitu, orang tua, sekolah, maupun Dinas Kesehatan dapat melakukan pemantauan secara lebih transparan," kata Sudaryono.