logo
Tragedi Banjir Bandang Nepal-Tibet: Korban Tewas Tembus 469 Orang, 1.500 Lebih M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Manjakan Lidah Warga Pekanbaru, Dawik Toast Tawarkan Roti Panggang Kekinian Mula Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Padamkan Karhutla dengan Tepung Singkong, BRIN Kaji Metode Penyebaran: Kan Tak M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Menguat di Akhir Pekan, Ditutup ke Rp17.693 per Dolar AS, Sentimen BI Jad Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Danantara Setor Rp120 Triliun ke APBN 2026, Menkeu: Pendapatan Negara Meningkat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kasus Bupati Kuansing: Menhut Raja Juli Kembali Bungkam Saat Ditanya Selisih Uan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kebakaran Lahan Gambut Dekati Permukiman di Tembilahan, Tim Gabungan Berjibaku P Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Digempur Konten Medsos, Wabup Rohil Jhony Charles Tetap Fokus Tangani Karhutla Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Nepal
Banjir Bandang Nepal, 270 Orang Tewas dan 1.300 Orang Hilang
Kondisi pemukiman yang hanjut akibat banjir badang yang disebabkan longsoran gletser (ft:INews)
Banjir Bandang Nepal, 270 Orang Tewas dan 1.300 Orang Hilang
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: news | 27 Agustus 2026 | 18:22:53

KATHMANDU-Banjir bandang akibat longsoran es dan material gletser melanda wilayah perbatasan Nepal dan China. Sedikitnya 270 orang dilaporkan meninggal dunia hingga Kamis sore (27/8/2026).

Sementara itu, jumlah orang yang masih hilang terus bertambah. Otoritas Nepal mencatat 826 orang hilang, termasuk wisatawan dari Nepal maupun sejumlah negara asing.

Secara keseluruhan, jumlah orang hilang di Nepal dan China telah melampaui 1.300 orang. Kantor berita dpa melaporkan, sebanyak 558 orang di antaranya hilang di wilayah China.

iklan-view

Para ahli menduga bencana tersebut dipicu longsoran es dari gletser di kawasan Himalaya. Pemanasan kawasan pegunungan akibat perubahan iklim dinilai meningkatkan risiko bencana serupa.

Rekaman drone memperlihatkan kerusakan parah di sejumlah wilayah terdampak. Jalan utama hancur, sementara bangunan tertimbun lumpur tebal yang menyerupai semen basah.

Kantor berita pemerintah China, Xinhua, sebagaimana dikutip dari detik.com melaporkan masih terdapat kemungkinan korban jiwa dalam jumlah besar. Proses pencarian dan penyelamatan juga menghadapi medan yang sulit.

Lembah-lembah terjal di kawasan Himalaya menjadi jalur penting bagi masyarakat dan aktivitas ekonomi. Namun, wilayah tersebut juga memiliki tingkat kerawanan bencana yang sangat tinggi.

Di Distrik Nuwakot, Nepal, lumpur dilaporkan menutupi bangunan hingga lantai dua. Kendaraan tertimbun material longsoran, sementara puing-puing tersangkut di pohon dan kabel listrik.

Sejumlah penyintas terlihat berlumuran lumpur setelah menyelamatkan diri. Banyak warga mengaku tidak memiliki cukup waktu untuk menghindari terjangan banjir.

“Ketika saya tiba di pasar Dhunge, dalam waktu setengah jam, banjir datang dan merusak seluruh pasar,” kata warga setempat, Shoyam Rajbhandari, kepada Associated Press.

Saat itu, warga sedang bersiap berangkat bekerja. “Berapa banyak orang yang hilang atau tewas, kami tidak tahu,” ujarnya.

Korban Hilang Saat Berziarah ke Situs Suci

Bencana terjadi di tengah perayaan festival lokal Janai Purnima. Periode tersebut bertepatan dengan meningkatnya aktivitas wisata dan ziarah menuju kawasan Gunung Kailash melalui wilayah Rasuwa.

Pada Rabu (26/8), pejabat Nepal sebelumnya melaporkan 403 orang hilang. Sebanyak 341 orang di antaranya merupakan warga negara asing.

Juru bicara badan pariwisata setempat, Sunil Sharma, menyebut 133 warga negara India termasuk dalam daftar tersebut. Mereka diketahui sedang melakukan perjalanan ziarah menuju Gunung Kailash di Tibet.

Gunung Kailash merupakan salah satu situs suci bagi umat Hindu.

Selain warga India, 47 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, dan 24 warga Kanada juga dilaporkan hilang.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan tengah memantau kondisi warga negaranya yang terdampak bencana.

Sharma juga menyebut sedikitnya 62 warga Nepal yang hilang sedang melakukan trekking di kawasan Danau Gosaikunda, Distrik Rasuwa.

Rasuwa merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan Gyirong, Tibet. Distrik tersebut menjadi salah satu kawasan yang paling parah terdampak banjir.

Juru bicara Kepolisian Nepal, Abi Narayan Kafle, mengatakan sedikitnya 28 personel kepolisian juga dilaporkan hilang.

Pemerintah Nepal kemudian memperingatkan masyarakat untuk menjauh dari bantaran Sungai Trishuli, Bhotekoshi, dan Narayani.

Arus deras dilaporkan menghancurkan sedikitnya 19 jembatan. Hampir 40 kilometer jalan raya juga terdampak akibat banjir dan longsoran.

Sungai Bhotekoshi mulai meluap sekitar pukul 09.00 waktu setempat pada Rabu. Air kemudian menerjang sejumlah desa dan proyek pembangkit listrik tenaga air.

“Kami telah meminta bantuan dari India maupun China untuk operasi penyelamatan,” kata juru bicara pemerintah Nepal, Sasmit Pokharel.

Bukan Gempa, Melainkan Longsoran Gletser

Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) sempat melaporkan gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,4 pada Rabu dini hari.

Lokasi aktivitas tersebut berada sekitar 66 kilometer di utara Kathmandu. Namun, analisis USGS kemudian direvisi.

Aktivitas seismik yang terdeteksi ternyata berkaitan dengan longsoran gletser dalam skala besar. Peristiwa tersebut diperkirakan menghasilkan guncangan setara magnitudo 5,2.

Longsoran membawa material es, batu, dan tanah dalam jumlah besar ke wilayah yang lebih rendah. Material tersebut kemudian menyumbat aliran sungai sebelum memicu gelombang banjir secara tiba-tiba.

Kesimpulan tersebut didasarkan pada data stasiun seismik terdekat dan citra satelit. Analisis tersebut menunjukkan tidak terdapat aktivitas tektonik murni yang menjadi penyebab utama bencana.

Sejumlah Negara Cari Warganya

Dampak bencana juga dirasakan warga negara asing yang berada di kawasan terdampak.

Pemerintah Korea Selatan melaporkan sembilan warganya yang bekerja dalam proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga air di Nepal termasuk dalam daftar orang hilang.

Kementerian Luar Negeri Malaysia juga menyatakan kehilangan kontak dengan 11 warga negaranya. Mereka diyakini berada di Distrik Rasuwa saat bencana terjadi.

Sementara itu, Kedutaan Besar Rusia di Nepal melaporkan empat warga negaranya hilang di zona bencana.

Perdana Menteri India Narendra Modi telah berkomunikasi dengan Perdana Menteri Nepal Balendra Shah. Modi menawarkan bantuan langsung untuk mendukung operasi penyelamatan.

“India siap memberikan segala bentuk bantuan kemanusiaan yang dimungkinkan kepada Nepal,” tulis Modi melalui media sosial.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mulai memobilisasi bantuan untuk Nepal.

Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan organisasi tersebut bersiap menghadapi kebutuhan kemanusiaan yang sangat besar akibat bencana.

Australia, Inggris, Uni Eropa, Finlandia, Prancis, Norwegia, dan Swiss juga menyampaikan solidaritas kepada Nepal.

Mereka meminta masyarakat di wilayah terdampak mengikuti arahan otoritas setempat. Peringatan keselamatan juga diminta menjadi perhatian karena kondisi masih terus berkembang.

Himalaya Menghadapi Risiko Bencana Gletser

Pusat Pengembangan Pegunungan Terpadu Internasional (ICIMOD) yang berbasis di Kathmandu menyebut longsoran es dan salju dari gletser kemungkinan menjadi pemicu utama banjir bandang.

Para pakar ICIMOD mencatat karakteristik gelombang banjir yang sangat ekstrem. Tinggi permukaan air di salah satu titik Sungai Trishuli bahkan dilaporkan melonjak hingga sembilan meter dalam waktu sekitar 30 menit.

Sungai Lhende Khola, salah satu anak Sungai Bhotekoshi, menjadi salah satu wilayah dengan dampak paling parah.

Spesialis pengurangan risiko bencana ICIMOD, Saswata Sanyal, mengatakan Lhende Khola telah mengalami dua kali banjir dalam 14 bulan terakhir.

Menurut Sanyal, bencana terbaru dipicu longsoran material batu dan es dari gletser di sisi Nepal. Material tersebut menyumbat sungai dan kemudian melepaskan gelombang air bah secara tiba-tiba ke wilayah hilir.

Sanyal mendesak penguatan sistem peringatan dini di kawasan Himalaya. Menurutnya, kebutuhan tersebut semakin mendesak seiring meningkatnya suhu di kawasan pegunungan.

Bencana serupa sebelumnya juga pernah terjadi di kawasan Himalaya. Salah satunya ketika sebuah danau glasial di Tibet meluap akibat peningkatan suhu ekstrem.

Peristiwa tersebut menewaskan sembilan orang dan merusak infrastruktur vital, termasuk jembatan yang menghubungkan Nepal dan China.

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan meningkatnya risiko bencana hidrologis dan gletser di kawasan Himalaya. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi negara-negara yang bergantung pada lembah pegunungan sebagai jalur transportasi, permukiman, pariwisata, dan sumber energi.

Home / News
Banjir Bandang Nepal, 270 Orang Tewas dan 1.300 Orang Hilang
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: news | 27 Agustus 2026 | 18:22:53
Banjir Bandang Nepal, 270 Orang Tewas dan 1.300 Orang Hilang
Kondisi pemukiman yang hanjut akibat banjir badang yang disebabkan longsoran gletser (ft:INews)

KATHMANDU-Banjir bandang akibat longsoran es dan material gletser melanda wilayah perbatasan Nepal dan China. Sedikitnya 270 orang dilaporkan meninggal dunia hingga Kamis sore (27/8/2026).

Sementara itu, jumlah orang yang masih hilang terus bertambah. Otoritas Nepal mencatat 826 orang hilang, termasuk wisatawan dari Nepal maupun sejumlah negara asing.

Secara keseluruhan, jumlah orang hilang di Nepal dan China telah melampaui 1.300 orang. Kantor berita dpa melaporkan, sebanyak 558 orang di antaranya hilang di wilayah China.

Para ahli menduga bencana tersebut dipicu longsoran es dari gletser di kawasan Himalaya. Pemanasan kawasan pegunungan akibat perubahan iklim dinilai meningkatkan risiko bencana serupa.

Rekaman drone memperlihatkan kerusakan parah di sejumlah wilayah terdampak. Jalan utama hancur, sementara bangunan tertimbun lumpur tebal yang menyerupai semen basah.

Kantor berita pemerintah China, Xinhua, sebagaimana dikutip dari detik.com melaporkan masih terdapat kemungkinan korban jiwa dalam jumlah besar. Proses pencarian dan penyelamatan juga menghadapi medan yang sulit.

Lembah-lembah terjal di kawasan Himalaya menjadi jalur penting bagi masyarakat dan aktivitas ekonomi. Namun, wilayah tersebut juga memiliki tingkat kerawanan bencana yang sangat tinggi.

Di Distrik Nuwakot, Nepal, lumpur dilaporkan menutupi bangunan hingga lantai dua. Kendaraan tertimbun material longsoran, sementara puing-puing tersangkut di pohon dan kabel listrik.

Sejumlah penyintas terlihat berlumuran lumpur setelah menyelamatkan diri. Banyak warga mengaku tidak memiliki cukup waktu untuk menghindari terjangan banjir.

“Ketika saya tiba di pasar Dhunge, dalam waktu setengah jam, banjir datang dan merusak seluruh pasar,” kata warga setempat, Shoyam Rajbhandari, kepada Associated Press.

Saat itu, warga sedang bersiap berangkat bekerja. “Berapa banyak orang yang hilang atau tewas, kami tidak tahu,” ujarnya.

Korban Hilang Saat Berziarah ke Situs Suci

Bencana terjadi di tengah perayaan festival lokal Janai Purnima. Periode tersebut bertepatan dengan meningkatnya aktivitas wisata dan ziarah menuju kawasan Gunung Kailash melalui wilayah Rasuwa.

Pada Rabu (26/8), pejabat Nepal sebelumnya melaporkan 403 orang hilang. Sebanyak 341 orang di antaranya merupakan warga negara asing.

Juru bicara badan pariwisata setempat, Sunil Sharma, menyebut 133 warga negara India termasuk dalam daftar tersebut. Mereka diketahui sedang melakukan perjalanan ziarah menuju Gunung Kailash di Tibet.

Gunung Kailash merupakan salah satu situs suci bagi umat Hindu.

Selain warga India, 47 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, dan 24 warga Kanada juga dilaporkan hilang.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan tengah memantau kondisi warga negaranya yang terdampak bencana.

Sharma juga menyebut sedikitnya 62 warga Nepal yang hilang sedang melakukan trekking di kawasan Danau Gosaikunda, Distrik Rasuwa.

Rasuwa merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan Gyirong, Tibet. Distrik tersebut menjadi salah satu kawasan yang paling parah terdampak banjir.

Juru bicara Kepolisian Nepal, Abi Narayan Kafle, mengatakan sedikitnya 28 personel kepolisian juga dilaporkan hilang.

Pemerintah Nepal kemudian memperingatkan masyarakat untuk menjauh dari bantaran Sungai Trishuli, Bhotekoshi, dan Narayani.

Arus deras dilaporkan menghancurkan sedikitnya 19 jembatan. Hampir 40 kilometer jalan raya juga terdampak akibat banjir dan longsoran.

Sungai Bhotekoshi mulai meluap sekitar pukul 09.00 waktu setempat pada Rabu. Air kemudian menerjang sejumlah desa dan proyek pembangkit listrik tenaga air.

“Kami telah meminta bantuan dari India maupun China untuk operasi penyelamatan,” kata juru bicara pemerintah Nepal, Sasmit Pokharel.

Bukan Gempa, Melainkan Longsoran Gletser

Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) sempat melaporkan gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,4 pada Rabu dini hari.

Lokasi aktivitas tersebut berada sekitar 66 kilometer di utara Kathmandu. Namun, analisis USGS kemudian direvisi.

Aktivitas seismik yang terdeteksi ternyata berkaitan dengan longsoran gletser dalam skala besar. Peristiwa tersebut diperkirakan menghasilkan guncangan setara magnitudo 5,2.

Longsoran membawa material es, batu, dan tanah dalam jumlah besar ke wilayah yang lebih rendah. Material tersebut kemudian menyumbat aliran sungai sebelum memicu gelombang banjir secara tiba-tiba.

Kesimpulan tersebut didasarkan pada data stasiun seismik terdekat dan citra satelit. Analisis tersebut menunjukkan tidak terdapat aktivitas tektonik murni yang menjadi penyebab utama bencana.

Sejumlah Negara Cari Warganya

Dampak bencana juga dirasakan warga negara asing yang berada di kawasan terdampak.

Pemerintah Korea Selatan melaporkan sembilan warganya yang bekerja dalam proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga air di Nepal termasuk dalam daftar orang hilang.

Kementerian Luar Negeri Malaysia juga menyatakan kehilangan kontak dengan 11 warga negaranya. Mereka diyakini berada di Distrik Rasuwa saat bencana terjadi.

Sementara itu, Kedutaan Besar Rusia di Nepal melaporkan empat warga negaranya hilang di zona bencana.

Perdana Menteri India Narendra Modi telah berkomunikasi dengan Perdana Menteri Nepal Balendra Shah. Modi menawarkan bantuan langsung untuk mendukung operasi penyelamatan.

“India siap memberikan segala bentuk bantuan kemanusiaan yang dimungkinkan kepada Nepal,” tulis Modi melalui media sosial.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mulai memobilisasi bantuan untuk Nepal.

Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan organisasi tersebut bersiap menghadapi kebutuhan kemanusiaan yang sangat besar akibat bencana.

Australia, Inggris, Uni Eropa, Finlandia, Prancis, Norwegia, dan Swiss juga menyampaikan solidaritas kepada Nepal.

Mereka meminta masyarakat di wilayah terdampak mengikuti arahan otoritas setempat. Peringatan keselamatan juga diminta menjadi perhatian karena kondisi masih terus berkembang.

Himalaya Menghadapi Risiko Bencana Gletser

Pusat Pengembangan Pegunungan Terpadu Internasional (ICIMOD) yang berbasis di Kathmandu menyebut longsoran es dan salju dari gletser kemungkinan menjadi pemicu utama banjir bandang.

Para pakar ICIMOD mencatat karakteristik gelombang banjir yang sangat ekstrem. Tinggi permukaan air di salah satu titik Sungai Trishuli bahkan dilaporkan melonjak hingga sembilan meter dalam waktu sekitar 30 menit.

Sungai Lhende Khola, salah satu anak Sungai Bhotekoshi, menjadi salah satu wilayah dengan dampak paling parah.

Spesialis pengurangan risiko bencana ICIMOD, Saswata Sanyal, mengatakan Lhende Khola telah mengalami dua kali banjir dalam 14 bulan terakhir.

Menurut Sanyal, bencana terbaru dipicu longsoran material batu dan es dari gletser di sisi Nepal. Material tersebut menyumbat sungai dan kemudian melepaskan gelombang air bah secara tiba-tiba ke wilayah hilir.

Sanyal mendesak penguatan sistem peringatan dini di kawasan Himalaya. Menurutnya, kebutuhan tersebut semakin mendesak seiring meningkatnya suhu di kawasan pegunungan.

Bencana serupa sebelumnya juga pernah terjadi di kawasan Himalaya. Salah satunya ketika sebuah danau glasial di Tibet meluap akibat peningkatan suhu ekstrem.

Peristiwa tersebut menewaskan sembilan orang dan merusak infrastruktur vital, termasuk jembatan yang menghubungkan Nepal dan China.

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan meningkatnya risiko bencana hidrologis dan gletser di kawasan Himalaya. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi negara-negara yang bergantung pada lembah pegunungan sebagai jalur transportasi, permukiman, pariwisata, dan sumber energi.