logo
Banjir Dahsyat Terjang Perbatasan Nepal-Tibet, Sedikitnya 97 Tewas dan 384 Wisat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Nyaris Stagnan di Rp17.725 per Dolar AS, Pasar Menanti Sinyal Ketua The F Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 549 Warga Pelalawan Terserang ISPA, Kabut Asap Karhutla Mulai Mengancam Kesehata Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Jelang Aksi 27 Agustus: Polri Perketat Jalur Masuk Jakarta, Massa dari Sumatera Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kabut Asap Mulai Selimuti Rohil, Tiga Hotspot Terdeteksi, Pemerintah Diminta Tak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 37 Orang Ditetapkan Jadi Tersangka Karhutla di Riau, Polda: Semuanya Pelaku Pero Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Puluhan Tahun Dinanti, Jalan Poros Kuba Rusak Parah, Warga Tagih Keseriusan Peme Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polda Riau Gulung Sindikat Curanmor Lintas Provinsi: 6 Tersangka Ditangkap, 44 M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Hukum / Hukum
Dugaan Mark Up Proyek Whoosh Disorot! KPK Akui Kasus Belum Naik Penyidikan Sejak 2025
Ilustrasi. Kereta api cepat Whoosh. (Foto: Antara)
Dugaan Mark Up Proyek Whoosh Disorot! KPK Akui Kasus Belum Naik Penyidikan Sejak 2025
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: hukum | 5 Mei 2026 | 15:15:24

JAKARTA — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan penanganan dugaan korupsi proyek kereta cepat Jakarta–Bandung, Whoosh, di lingkungan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) masih berada pada tahap penyelidikan.

“Untuk kereta cepat Whoosh, saat ini masih dalam proses penyelidikan,” kata Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Menjawab pertanyaan soal belum naiknya status perkara ke tahap penyidikan—padahal penyelidikan disebut telah berjalan sejak awal 2025—Budi menegaskan hal itu berkaitan dengan manajemen penanganan perkara di internal KPK.

iklan-view

“Ini terkait manajemen perkara. Saat ini KPK juga menangani banyak kasus lain, termasuk penyelidikan tertutup dan operasi tangkap tangan dalam beberapa bulan terakhir di sejumlah daerah,” ujarnya seperti dikutip antaranews.

Meski demikian, KPK menegaskan proses pengusutan dugaan korupsi proyek Whoosh masih terus berjalan.

“Penyelidikan masih berprogres. Sejumlah langkah terus dilakukan oleh tim penyelidik,” tambahnya.

Isu dugaan korupsi proyek strategis tersebut sebelumnya mencuat setelah pernyataan Mahfud MD. Dalam video di kanal YouTube pribadinya, 14 Oktober 2025, ia menyinggung adanya indikasi penggelembungan biaya (mark up).

Menurut Mahfud, biaya pembangunan kereta cepat di Indonesia mencapai sekitar 52 juta dolar AS per kilometer, jauh di atas perhitungan di China yang berkisar 17–18 juta dolar AS per kilometer.

“Ini siapa yang menaikkan? Uangnya ke mana? Naik tiga kali lipat. Itu harus diteliti,” tegasnya.

Menindaklanjuti pernyataan tersebut, KPK pada 16 Oktober 2025 mengimbau Mahfud untuk menyampaikan laporan resmi. Respons pun berlanjut, hingga Mahfud pada 26 Oktober 2025 menyatakan kesiapannya memenuhi panggilan KPK untuk memberikan keterangan.

Sehari kemudian, KPK mengonfirmasi bahwa dugaan korupsi proyek Whoosh telah masuk tahap penyelidikan sejak awal 2025—dan hingga kini proses itu masih bergulir. (ntr)

Home / Hukum
Dugaan Mark Up Proyek Whoosh Disorot! KPK Akui Kasus Belum Naik Penyidikan Sejak 2025
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: hukum | 5 Mei 2026 | 15:15:24
Dugaan Mark Up Proyek Whoosh Disorot! KPK Akui Kasus Belum Naik Penyidikan Sejak 2025
Ilustrasi. Kereta api cepat Whoosh. (Foto: Antara)

JAKARTA — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan penanganan dugaan korupsi proyek kereta cepat Jakarta–Bandung, Whoosh, di lingkungan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) masih berada pada tahap penyelidikan.

“Untuk kereta cepat Whoosh, saat ini masih dalam proses penyelidikan,” kata Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Menjawab pertanyaan soal belum naiknya status perkara ke tahap penyidikan—padahal penyelidikan disebut telah berjalan sejak awal 2025—Budi menegaskan hal itu berkaitan dengan manajemen penanganan perkara di internal KPK.

“Ini terkait manajemen perkara. Saat ini KPK juga menangani banyak kasus lain, termasuk penyelidikan tertutup dan operasi tangkap tangan dalam beberapa bulan terakhir di sejumlah daerah,” ujarnya seperti dikutip antaranews.

Meski demikian, KPK menegaskan proses pengusutan dugaan korupsi proyek Whoosh masih terus berjalan.

“Penyelidikan masih berprogres. Sejumlah langkah terus dilakukan oleh tim penyelidik,” tambahnya.

Isu dugaan korupsi proyek strategis tersebut sebelumnya mencuat setelah pernyataan Mahfud MD. Dalam video di kanal YouTube pribadinya, 14 Oktober 2025, ia menyinggung adanya indikasi penggelembungan biaya (mark up).

Menurut Mahfud, biaya pembangunan kereta cepat di Indonesia mencapai sekitar 52 juta dolar AS per kilometer, jauh di atas perhitungan di China yang berkisar 17–18 juta dolar AS per kilometer.

“Ini siapa yang menaikkan? Uangnya ke mana? Naik tiga kali lipat. Itu harus diteliti,” tegasnya.

Menindaklanjuti pernyataan tersebut, KPK pada 16 Oktober 2025 mengimbau Mahfud untuk menyampaikan laporan resmi. Respons pun berlanjut, hingga Mahfud pada 26 Oktober 2025 menyatakan kesiapannya memenuhi panggilan KPK untuk memberikan keterangan.

Sehari kemudian, KPK mengonfirmasi bahwa dugaan korupsi proyek Whoosh telah masuk tahap penyelidikan sejak awal 2025—dan hingga kini proses itu masih bergulir. (ntr)