
JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (15/7/2026). Mata uang Garuda ditutup naik 23 poin atau 0,13 persen ke level Rp18.068 per dolar AS, dari posisi sehari sebelumnya Rp18.091 per dolar AS.
Penguatan rupiah didorong meredanya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) setelah data inflasi Negeri Paman Sam menunjukkan perlambatan di bawah perkiraan.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi menjadi katalis positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS setelah data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan memicu turunnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed," ujar Lukman di Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Berdasarkan laporan Anadolu, inflasi tahunan AS melambat menjadi 3,5 persen pada Juni 2026, turun dari 4,2 persen pada Mei. Penurunan tajam harga energi turut mendorong penurunan inflasi bulanan terbesar sejak April 2020.
Secara bulanan, Indeks Harga Konsumen (IHK) turun 0,4 persen setelah pada Mei masih naik 0,5 persen. Sementara itu, inflasi inti tercatat stagnan secara bulanan dan melambat menjadi 2,6 persen secara tahunan dari sebelumnya 2,9 persen.
Data tersebut memicu perubahan pandangan pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed. Proyeksi terbaru menunjukkan sembilan pejabat The Fed masih memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini, sedangkan sembilan pejabat lainnya memperkirakan suku bunga tetap atau bahkan berpotensi turun.
Selain sentimen global, rupiah juga mendapat dukungan dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan prospek stabil, mencerminkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi nasional.
Meski demikian, penguatan rupiah belum sepenuhnya lepas dari tekanan eksternal.
"Penguatan masih dibatasi oleh memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dunia," kata Lukman.
Sejalan dengan pergerakan di pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat ke level Rp18.064 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp18.099 per dolar AS. (**)
sumber: antaranews


JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (15/7/2026). Mata uang Garuda ditutup naik 23 poin atau 0,13 persen ke level Rp18.068 per dolar AS, dari posisi sehari sebelumnya Rp18.091 per dolar AS.
Penguatan rupiah didorong meredanya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) setelah data inflasi Negeri Paman Sam menunjukkan perlambatan di bawah perkiraan.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi menjadi katalis positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
"Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS setelah data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan memicu turunnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed," ujar Lukman di Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Berdasarkan laporan Anadolu, inflasi tahunan AS melambat menjadi 3,5 persen pada Juni 2026, turun dari 4,2 persen pada Mei. Penurunan tajam harga energi turut mendorong penurunan inflasi bulanan terbesar sejak April 2020.
Secara bulanan, Indeks Harga Konsumen (IHK) turun 0,4 persen setelah pada Mei masih naik 0,5 persen. Sementara itu, inflasi inti tercatat stagnan secara bulanan dan melambat menjadi 2,6 persen secara tahunan dari sebelumnya 2,9 persen.
Data tersebut memicu perubahan pandangan pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed. Proyeksi terbaru menunjukkan sembilan pejabat The Fed masih memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini, sedangkan sembilan pejabat lainnya memperkirakan suku bunga tetap atau bahkan berpotensi turun.
Selain sentimen global, rupiah juga mendapat dukungan dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan prospek stabil, mencerminkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi nasional.
Meski demikian, penguatan rupiah belum sepenuhnya lepas dari tekanan eksternal.
"Penguatan masih dibatasi oleh memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dunia," kata Lukman.
Sejalan dengan pergerakan di pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat ke level Rp18.064 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp18.099 per dolar AS. (**)
sumber: antaranews