
JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Namun, tekanan terhadap mata uang Garuda mulai mereda setelah sempat terperosok lebih dalam pada awal sesi perdagangan.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.890 per dolar AS, atau melemah 0,08 persen dibanding penutupan sebelumnya. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan saat pembukaan perdagangan yang sempat menyentuh Rp17.910 per dolar AS, atau tertekan sekitar 0,20 persen.
Sepanjang perdagangan, pergerakan rupiah berlangsung fluktuatif dengan kisaran Rp17.875 hingga Rp17.928 per dolar AS, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar menghadapi berbagai sentimen domestik maupun global.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) justru melemah sekitar 0,06 persen ke level 101,069 pada pukul 15.00 WIB. Meski demikian, pelemahan greenback belum mampu memberikan dorongan signifikan bagi penguatan rupiah.
Pelaku pasar masih mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21–22 Juli 2026. BI juga menahan suku bunga Deposit Facility di 4,75 persen dan Lending Facility di 6,50 persen.
Keputusan tersebut diambil setelah bank sentral menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin sejak Mei 2026 sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan nilai tukar rupiah hingga pertengahan Juli masih relatif stabil.
"Dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil dibandingkan dengan level akhir Juni 2026 sebesar Rp17.880," ujar Perry.
Selain kebijakan suku bunga, investor juga memperhatikan perkembangan likuiditas dalam negeri. Bank Indonesia mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) pada Juni 2026 mencapai Rp10.432,8 triliun, atau tumbuh 8,7 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski masih meningkat, laju pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 10,8 persen.
BI menjelaskan pertumbuhan M2 didorong oleh peningkatan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,8 persen, uang kuasi 6,9 persen, serta tetap ditopang pertumbuhan kredit dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat.
Dari faktor eksternal, pasar juga masih dibayangi meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah, sehingga memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi dunia.
Ancaman gangguan di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb membuat sejumlah kapal tanker mulai mengalihkan rute pelayaran. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global dan potensi kenaikan inflasi.
Di saat bersamaan, militer AS kembali melancarkan serangan ke Iran atas perintah Presiden Donald Trump. Serangan yang telah berlangsung selama 12 hari berturut-turut itu semakin meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.
Kombinasi kebijakan moneter Bank Indonesia, perlambatan likuiditas domestik, dan memanasnya konflik geopolitik membuat ruang penguatan rupiah masih terbatas, meski tekanan terhadap mata uang Garuda mulai berangsur mereda menjelang penutupan perdagangan. (**)
Sumber: CNBC Indonesia




JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Namun, tekanan terhadap mata uang Garuda mulai mereda setelah sempat terperosok lebih dalam pada awal sesi perdagangan.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.890 per dolar AS, atau melemah 0,08 persen dibanding penutupan sebelumnya. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan saat pembukaan perdagangan yang sempat menyentuh Rp17.910 per dolar AS, atau tertekan sekitar 0,20 persen.
Sepanjang perdagangan, pergerakan rupiah berlangsung fluktuatif dengan kisaran Rp17.875 hingga Rp17.928 per dolar AS, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar menghadapi berbagai sentimen domestik maupun global.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) justru melemah sekitar 0,06 persen ke level 101,069 pada pukul 15.00 WIB. Meski demikian, pelemahan greenback belum mampu memberikan dorongan signifikan bagi penguatan rupiah.
Pelaku pasar masih mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21–22 Juli 2026. BI juga menahan suku bunga Deposit Facility di 4,75 persen dan Lending Facility di 6,50 persen.
Keputusan tersebut diambil setelah bank sentral menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin sejak Mei 2026 sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan nilai tukar rupiah hingga pertengahan Juli masih relatif stabil.
"Dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil dibandingkan dengan level akhir Juni 2026 sebesar Rp17.880," ujar Perry.
Selain kebijakan suku bunga, investor juga memperhatikan perkembangan likuiditas dalam negeri. Bank Indonesia mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) pada Juni 2026 mencapai Rp10.432,8 triliun, atau tumbuh 8,7 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski masih meningkat, laju pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 10,8 persen.
BI menjelaskan pertumbuhan M2 didorong oleh peningkatan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,8 persen, uang kuasi 6,9 persen, serta tetap ditopang pertumbuhan kredit dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat.
Dari faktor eksternal, pasar juga masih dibayangi meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah, sehingga memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi dunia.
Ancaman gangguan di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb membuat sejumlah kapal tanker mulai mengalihkan rute pelayaran. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global dan potensi kenaikan inflasi.
Di saat bersamaan, militer AS kembali melancarkan serangan ke Iran atas perintah Presiden Donald Trump. Serangan yang telah berlangsung selama 12 hari berturut-turut itu semakin meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.
Kombinasi kebijakan moneter Bank Indonesia, perlambatan likuiditas domestik, dan memanasnya konflik geopolitik membuat ruang penguatan rupiah masih terbatas, meski tekanan terhadap mata uang Garuda mulai berangsur mereda menjelang penutupan perdagangan. (**)
Sumber: CNBC Indonesia