logo
Diduga Rusak Hutan Mangrove, Seorang Penghulu di Rohil Ditetapkan Jadi Tersangka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Anak Sesak Napas Terpapar Asap Karhutla, Puskesmas Sidomulyo Barat di Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Karhutla Mulai Ganggu Kesehatan, 800 Warga Riau Terserang ISPA Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pemkab Pelalawan Tingkatkan Status Penanganan Jadi Tanggap Darurat Karhutla Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kualitas Udara Pekanbaru Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat, AQI Tembus 230 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 447 Hotspot Masih Terdeteksi di Riau, Terbanyak di Pelalawan dan Inhil Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pedagang Pasar Kodim Datangi PPID Pekanbaru, Tagih Dokumen Pengelola PT PMJ Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Stafsus Menhut Mangkir, KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Dugaan Gratifikasi Kuans Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / NASIONAL
UPDATE Gempa NTT: Korban Tewas Bertambah Jadi 68 Orang, 213 Luka dan 1.500 Lebih Bangunan Rusak
Proses pencarian dan evakuasi korban gempa NTT yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan. (Foto: Istimewa)
UPDATE Gempa NTT: Korban Tewas Bertambah Jadi 68 Orang, 213 Luka dan 1.500 Lebih Bangunan Rusak
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: news | 17 Agustus 2026 | 19:41:14

JAKARTA - Korban meninggal dunia akibat gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 68 orang meninggal dunia dan 213 lainnya mengalami luka-luka.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, korban meninggal tersebar di tujuh kabupaten.

Rinciannya, 26 orang meninggal di Kabupaten Manggarai, 24 orang di Manggarai Timur, delapan orang di Nagekeo, empat orang di Sikka, dua orang di Ende, dua orang di Manggarai Barat, dan dua orang di Ngada.

iklan-view

"Data yang kami peroleh hingga saat ini sebanyak 68 jiwa yang meninggal," kata Berton dalam konferensi pers, Senin (17/8/2026), seperti dikutip dari cnnindonesia.

BNPB masih melakukan pemutakhiran data karena proses penanganan dan pencarian korban terus berlangsung. Pemerintah berharap tidak terjadi penambahan korban meninggal maupun luka.

Selain menelan korban jiwa, gempa yang berpusat di wilayah Kabupaten Nagekeo tersebut juga menyebabkan kerusakan besar pada permukiman dan fasilitas publik.

Data sementara BNPB hingga Minggu (16/8) mencatat 1.357 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari 914 rumah rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan.

Kerusakan juga terjadi pada sedikitnya 167 fasilitas publik, meliputi 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintahan.

Dampak terhadap sektor pendidikan bahkan lebih luas. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat 253 satuan pendidikan terdampak gempa, terdiri dari 199 satuan pendidikan di bawah kewenangan pemerintah kabupaten dan 54 satuan pendidikan di bawah kewenangan pemerintah provinsi.

Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah sekolah terdampak terbanyak, yakni 104 sekolah. Selanjutnya Manggarai Timur 52 sekolah, Nagekeo 44 sekolah, Ende 39 sekolah, Ngada 35 sekolah, Sikka 27 sekolah, dan Manggarai Barat 23 sekolah.

Gempa juga menimbulkan korban dari lingkungan satuan pendidikan. Data Kemendikdasmen mencatat tiga murid dan satu guru meninggal dunia. Dua murid dan satu guru menjadi korban di Manggarai Timur, sedangkan satu murid lainnya meninggal di Manggarai.

Besarnya dampak gempa membuat ribuan warga harus meninggalkan rumah dan bertahan di lokasi pengungsian. Hingga Minggu (16/8), lebih dari 5.000 warga mengungsi.

Jumlah pengungsi terbesar berada di Kabupaten Sikka, mencapai 3.356 jiwa. Sebanyak 1.356 jiwa berada di GOR Samador, sedangkan sekitar 2.000 lainnya mengungsi secara mandiri di 10 titik.

Di Kabupaten Manggarai terdapat 2.078 pengungsi, sedangkan di Nagekeo sekitar 500 jiwa. Pengungsi juga tercatat berada di sejumlah wilayah di luar NTT, termasuk Bima dan Kepulauan Selayar.

Kebutuhan dasar para penyintas kini menjadi prioritas penanganan. Sejumlah wilayah membutuhkan tenda darurat, beras, obat-obatan, selimut, velbed, tikar, air bersih, hingga genset.

Situasi semakin kompleks karena gempa utama telah diikuti 341 kali aktivitas gempa susulan, yang menambah risiko bagi warga serta bangunan yang sudah mengalami kerusakan.

Pemprov NTT telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus 2026.

Pemerintah bersama BNPB dan instansi terkait kini terus melakukan pendataan korban, penanganan warga terdampak, pemenuhan kebutuhan pengungsi, serta pendataan dan perbaikan fasilitas yang mengalami kerusakan. (*)

Home / News
UPDATE Gempa NTT: Korban Tewas Bertambah Jadi 68 Orang, 213 Luka dan 1.500 Lebih Bangunan Rusak
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: news | 17 Agustus 2026 | 19:41:14
UPDATE Gempa NTT: Korban Tewas Bertambah Jadi 68 Orang, 213 Luka dan 1.500 Lebih Bangunan Rusak
Proses pencarian dan evakuasi korban gempa NTT yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan. (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Korban meninggal dunia akibat gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 68 orang meninggal dunia dan 213 lainnya mengalami luka-luka.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, korban meninggal tersebar di tujuh kabupaten.

Rinciannya, 26 orang meninggal di Kabupaten Manggarai, 24 orang di Manggarai Timur, delapan orang di Nagekeo, empat orang di Sikka, dua orang di Ende, dua orang di Manggarai Barat, dan dua orang di Ngada.

"Data yang kami peroleh hingga saat ini sebanyak 68 jiwa yang meninggal," kata Berton dalam konferensi pers, Senin (17/8/2026), seperti dikutip dari cnnindonesia.

BNPB masih melakukan pemutakhiran data karena proses penanganan dan pencarian korban terus berlangsung. Pemerintah berharap tidak terjadi penambahan korban meninggal maupun luka.

Selain menelan korban jiwa, gempa yang berpusat di wilayah Kabupaten Nagekeo tersebut juga menyebabkan kerusakan besar pada permukiman dan fasilitas publik.

Data sementara BNPB hingga Minggu (16/8) mencatat 1.357 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari 914 rumah rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan.

Kerusakan juga terjadi pada sedikitnya 167 fasilitas publik, meliputi 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintahan.

Dampak terhadap sektor pendidikan bahkan lebih luas. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat 253 satuan pendidikan terdampak gempa, terdiri dari 199 satuan pendidikan di bawah kewenangan pemerintah kabupaten dan 54 satuan pendidikan di bawah kewenangan pemerintah provinsi.

Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah sekolah terdampak terbanyak, yakni 104 sekolah. Selanjutnya Manggarai Timur 52 sekolah, Nagekeo 44 sekolah, Ende 39 sekolah, Ngada 35 sekolah, Sikka 27 sekolah, dan Manggarai Barat 23 sekolah.

Gempa juga menimbulkan korban dari lingkungan satuan pendidikan. Data Kemendikdasmen mencatat tiga murid dan satu guru meninggal dunia. Dua murid dan satu guru menjadi korban di Manggarai Timur, sedangkan satu murid lainnya meninggal di Manggarai.

Besarnya dampak gempa membuat ribuan warga harus meninggalkan rumah dan bertahan di lokasi pengungsian. Hingga Minggu (16/8), lebih dari 5.000 warga mengungsi.

Jumlah pengungsi terbesar berada di Kabupaten Sikka, mencapai 3.356 jiwa. Sebanyak 1.356 jiwa berada di GOR Samador, sedangkan sekitar 2.000 lainnya mengungsi secara mandiri di 10 titik.

Di Kabupaten Manggarai terdapat 2.078 pengungsi, sedangkan di Nagekeo sekitar 500 jiwa. Pengungsi juga tercatat berada di sejumlah wilayah di luar NTT, termasuk Bima dan Kepulauan Selayar.

Kebutuhan dasar para penyintas kini menjadi prioritas penanganan. Sejumlah wilayah membutuhkan tenda darurat, beras, obat-obatan, selimut, velbed, tikar, air bersih, hingga genset.

Situasi semakin kompleks karena gempa utama telah diikuti 341 kali aktivitas gempa susulan, yang menambah risiko bagi warga serta bangunan yang sudah mengalami kerusakan.

Pemprov NTT telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus 2026.

Pemerintah bersama BNPB dan instansi terkait kini terus melakukan pendataan korban, penanganan warga terdampak, pemenuhan kebutuhan pengungsi, serta pendataan dan perbaikan fasilitas yang mengalami kerusakan. (*)