logo
Operasional 15 SPPG di Riau Dihentikan Sementara, Ternyata Ini Alasannya! Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Lima Pejabat Kejati Riau Berganti, Kajati Soroti Integritas dan Penegakan Hukum Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi UPDATE: Botok Duduk di Balkon Sidang DPR, Massa AMPB Bertahan di Depan Gedung Pa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dampak Kabut Asap Makin Nyata, Diskes Riau Catat 1.960 Kasus Gangguan Kesehatan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Karhutla Riau Belum Reda, 69 Hotspot Masih Terdeteksi, Sebaran Tertinggi di Inhi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kualitas Udara Membaik, Hujan Masih Berpeluang Mengguyur Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Banjir Dahsyat Terjang Perbatasan Nepal-Tibet, Sedikitnya 97 Tewas dan 384 Wisat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Nyaris Stagnan di Rp17.725 per Dolar AS, Pasar Menanti Sinyal Ketua The F Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pekanbaru
Dampak Kabut Asap Makin Nyata, Diskes Riau Catat 1.960 Kasus Gangguan Kesehatan
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli. (Foto: Abdul Haris/PekanbaruTV)
Dampak Kabut Asap Makin Nyata, Diskes Riau Catat 1.960 Kasus Gangguan Kesehatan
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: abdul haris
Rubrik: news | 27 Agustus 2026 | 11:04:26

PEKANBARU-Kabut asap mulai memberi dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat di Riau. Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat 1.960 kasus gangguan kesehatan di 10 kabupaten/kota selama 19-26 Agustus 2026.

Dari jumlah tersebut, sekitar 950 kasus merupakan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kota Pekanbaru dan Kabupaten Pelalawan menjadi dua daerah dengan kasus gangguan kesehatan tertinggi selama periode tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengatakan seluruh kasus yang tercatat telah mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan masing-masing daerah. Tidak ada pasien dalam data tersebut yang harus menjalani rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan.

iklan-view

"Itu yang masuk datanya, tidak ada yang dirujuk, hanya berkunjung ke Puskesmas. Semua yang terdampak sudah ditangani tim kesehatan,” kata Zulkifli saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Kamis (27/8/2026).

Data Dinkes Riau menunjukkan gangguan kesehatan yang muncul selama periode tersebut tidak hanya berupa ISPA. Kasus yang dilaporkan juga mencakup radang mata, iritasi kulit, pneumonia, dan asma.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan kabut asap dapat mengganggu kesehatan masyarakat, terutama ketika warga harus beraktivitas di tengah kualitas udara yang buruk. Keluhan pernapasan menjadi salah satu persoalan yang paling banyak ditemukan berdasarkan data kesehatan pemerintah daerah.

Pekanbaru dan Pelalawan Paling Banyak
Pekanbaru mencatat jumlah gangguan kesehatan tertinggi dengan 563 kasus. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Pelalawan dengan 535 kasus.

Kabupaten Siak berada di urutan berikutnya dengan 198 kasus. Sementara itu, Kabupaten Kampar mencatat 195 kasus dan Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 181 kasus.

Kasus juga ditemukan di Kabupaten Rokan Hulu sebanyak 114 kasus, Rokan Hilir 68 kasus, Bengkalis 51 kasus, Indragiri Hulu 28 kasus, serta Kota Dumai sebanyak 27 kasus.

Jika seluruh wilayah tersebut dijumlahkan, terdapat 1.960 kasus gangguan kesehatan yang tercatat selama delapan hari pemantauan. Data itu menunjukkan dampak kesehatan akibat kabut asap telah tersebar di berbagai wilayah Riau.

Menurut Zulkifli, kasus ISPA paling banyak ditemukan di Pekanbaru dan Pelalawan. Kedua daerah tersebut termasuk wilayah yang terdampak kabut asap.

"Tertinggi itu Kota Pekanbaru sama Kabupaten Pelalawan karena daerah terdampak kan,” ujarnya.

Tingginya kasus di dua wilayah tersebut membuat penanganan kesehatan menjadi bagian penting dalam merespons kondisi kabut asap. Pemerintah tidak hanya perlu memantau kondisi udara, tetapi juga memastikan masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan memperoleh layanan medis.

Dinkes Kirim Masker dan Oksigen
Dinas Kesehatan Riau telah mengambil sejumlah langkah untuk membantu daerah yang terdampak. Salah satunya dengan mengirimkan bantuan kesehatan ke Kabupaten Pelalawan.

Bantuan tersebut berupa masker, makanan tambahan, dan oksigen konsentrat. Pengiriman dilakukan sebagai bagian dari respons terhadap kondisi kesehatan masyarakat di wilayah yang terdampak kabut asap.

Khusus untuk masyarakat, Dinkes Riau mengingatkan pentingnya mengurangi paparan langsung terhadap asap. Warga juga diminta memperhatikan kondisi tubuh selama kabut asap masih terjadi.

Zulkifli mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Ia juga meminta warga menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah mengalami gangguan kesehatan.

ISPA Mendominasi Gangguan Kesehatan
ISPA menjadi jenis gangguan kesehatan dengan jumlah kasus terbesar dalam catatan Dinkes Riau. Dari sekitar 1.960 kasus secara keseluruhan, sekitar 950 kasus merupakan ISPA.

Selain ISPA, gangguan kesehatan lainnya yang tercatat meliputi radang mata dan iritasi kulit. Dinkes juga mencatat kasus pneumonia dan asma dalam periode pemantauan tersebut.

Penyebaran kasus di 10 kabupaten/kota memperlihatkan persoalan kesehatan akibat kabut asap tidak hanya terjadi di satu wilayah. Pekanbaru sebagai daerah dengan jumlah kasus tertinggi mencatat 563 kasus, sementara Pelalawan berada sangat dekat dengan 535 kasus.

Meski seluruh pasien yang tercatat sejauh ini telah mendapatkan penanganan dan tidak ada yang dirujuk berdasarkan data tersebut, perkembangan kasus tetap menjadi perhatian. Pemantauan kesehatan masyarakat diperlukan selama kondisi kabut asap masih berlangsung.

Bagi masyarakat Riau, kondisi ini membuat perlindungan diri menjadi penting, terutama bagi warga yang harus beraktivitas di luar rumah. Penggunaan masker dan menjaga kondisi tubuh menjadi langkah yang diimbau Dinkes selama paparan kabut asap masih terjadi.

Dinkes Riau juga terus mencatat perkembangan gangguan kesehatan yang muncul di daerah terdampak. Data tersebut menjadi dasar untuk melihat kebutuhan penanganan kesehatan di masing-masing kabupaten/kota.

Dengan jumlah kasus yang telah mencapai 1.960 orang dalam periode 19-26 Agustus 2026, dampak kabut asap kini tidak hanya menjadi persoalan kualitas udara. Data kesehatan menunjukkan persoalan tersebut telah berpengaruh langsung terhadap masyarakat di sejumlah wilayah Riau. (*)

Home / News
Dampak Kabut Asap Makin Nyata, Diskes Riau Catat 1.960 Kasus Gangguan Kesehatan
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: abdul haris
Rubrik: news | 27 Agustus 2026 | 11:04:26
Dampak Kabut Asap Makin Nyata, Diskes Riau Catat 1.960 Kasus Gangguan Kesehatan
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli. (Foto: Abdul Haris/PekanbaruTV)

PEKANBARU-Kabut asap mulai memberi dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat di Riau. Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat 1.960 kasus gangguan kesehatan di 10 kabupaten/kota selama 19-26 Agustus 2026.

Dari jumlah tersebut, sekitar 950 kasus merupakan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kota Pekanbaru dan Kabupaten Pelalawan menjadi dua daerah dengan kasus gangguan kesehatan tertinggi selama periode tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengatakan seluruh kasus yang tercatat telah mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan masing-masing daerah. Tidak ada pasien dalam data tersebut yang harus menjalani rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan.

"Itu yang masuk datanya, tidak ada yang dirujuk, hanya berkunjung ke Puskesmas. Semua yang terdampak sudah ditangani tim kesehatan,” kata Zulkifli saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Kamis (27/8/2026).

Data Dinkes Riau menunjukkan gangguan kesehatan yang muncul selama periode tersebut tidak hanya berupa ISPA. Kasus yang dilaporkan juga mencakup radang mata, iritasi kulit, pneumonia, dan asma.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan kabut asap dapat mengganggu kesehatan masyarakat, terutama ketika warga harus beraktivitas di tengah kualitas udara yang buruk. Keluhan pernapasan menjadi salah satu persoalan yang paling banyak ditemukan berdasarkan data kesehatan pemerintah daerah.

Pekanbaru dan Pelalawan Paling Banyak
Pekanbaru mencatat jumlah gangguan kesehatan tertinggi dengan 563 kasus. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Pelalawan dengan 535 kasus.

Kabupaten Siak berada di urutan berikutnya dengan 198 kasus. Sementara itu, Kabupaten Kampar mencatat 195 kasus dan Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 181 kasus.

Kasus juga ditemukan di Kabupaten Rokan Hulu sebanyak 114 kasus, Rokan Hilir 68 kasus, Bengkalis 51 kasus, Indragiri Hulu 28 kasus, serta Kota Dumai sebanyak 27 kasus.

Jika seluruh wilayah tersebut dijumlahkan, terdapat 1.960 kasus gangguan kesehatan yang tercatat selama delapan hari pemantauan. Data itu menunjukkan dampak kesehatan akibat kabut asap telah tersebar di berbagai wilayah Riau.

Menurut Zulkifli, kasus ISPA paling banyak ditemukan di Pekanbaru dan Pelalawan. Kedua daerah tersebut termasuk wilayah yang terdampak kabut asap.

"Tertinggi itu Kota Pekanbaru sama Kabupaten Pelalawan karena daerah terdampak kan,” ujarnya.

Tingginya kasus di dua wilayah tersebut membuat penanganan kesehatan menjadi bagian penting dalam merespons kondisi kabut asap. Pemerintah tidak hanya perlu memantau kondisi udara, tetapi juga memastikan masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan memperoleh layanan medis.

Dinkes Kirim Masker dan Oksigen
Dinas Kesehatan Riau telah mengambil sejumlah langkah untuk membantu daerah yang terdampak. Salah satunya dengan mengirimkan bantuan kesehatan ke Kabupaten Pelalawan.

Bantuan tersebut berupa masker, makanan tambahan, dan oksigen konsentrat. Pengiriman dilakukan sebagai bagian dari respons terhadap kondisi kesehatan masyarakat di wilayah yang terdampak kabut asap.

Khusus untuk masyarakat, Dinkes Riau mengingatkan pentingnya mengurangi paparan langsung terhadap asap. Warga juga diminta memperhatikan kondisi tubuh selama kabut asap masih terjadi.

Zulkifli mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Ia juga meminta warga menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah mengalami gangguan kesehatan.

ISPA Mendominasi Gangguan Kesehatan
ISPA menjadi jenis gangguan kesehatan dengan jumlah kasus terbesar dalam catatan Dinkes Riau. Dari sekitar 1.960 kasus secara keseluruhan, sekitar 950 kasus merupakan ISPA.

Selain ISPA, gangguan kesehatan lainnya yang tercatat meliputi radang mata dan iritasi kulit. Dinkes juga mencatat kasus pneumonia dan asma dalam periode pemantauan tersebut.

Penyebaran kasus di 10 kabupaten/kota memperlihatkan persoalan kesehatan akibat kabut asap tidak hanya terjadi di satu wilayah. Pekanbaru sebagai daerah dengan jumlah kasus tertinggi mencatat 563 kasus, sementara Pelalawan berada sangat dekat dengan 535 kasus.

Meski seluruh pasien yang tercatat sejauh ini telah mendapatkan penanganan dan tidak ada yang dirujuk berdasarkan data tersebut, perkembangan kasus tetap menjadi perhatian. Pemantauan kesehatan masyarakat diperlukan selama kondisi kabut asap masih berlangsung.

Bagi masyarakat Riau, kondisi ini membuat perlindungan diri menjadi penting, terutama bagi warga yang harus beraktivitas di luar rumah. Penggunaan masker dan menjaga kondisi tubuh menjadi langkah yang diimbau Dinkes selama paparan kabut asap masih terjadi.

Dinkes Riau juga terus mencatat perkembangan gangguan kesehatan yang muncul di daerah terdampak. Data tersebut menjadi dasar untuk melihat kebutuhan penanganan kesehatan di masing-masing kabupaten/kota.

Dengan jumlah kasus yang telah mencapai 1.960 orang dalam periode 19-26 Agustus 2026, dampak kabut asap kini tidak hanya menjadi persoalan kualitas udara. Data kesehatan menunjukkan persoalan tersebut telah berpengaruh langsung terhadap masyarakat di sejumlah wilayah Riau. (*)