logo
Kejar Kemiskinan 2 Persen, Pemko Pekanbaru Petakan Wilayah Prioritas Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kejagung Sita Rp5 Miliar, Nama Ferry Boboho Muncul dalam Penyidikan Kasus Febrie Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Istri Sedang Melahirkan, Pengurus Ponpes Ash-Sholihah Sleman Diduga Perkosa Eks Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kuasa Hukum PT SPRH Divonis 12 Tahun, Korupsi Dana PI PHR Rugikan Negara Rp64,2 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Melemah ke Rp17.585, Reli 5 Hari Terhenti di Akhir Pekan, Ancaman The Fed Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ombudsman Dorong DPM-PTSP Pekanbaru Jadi Benchmark Tata Kelola Investasi Nasiona Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Berawal dari Jajanan Viral, Mochillpku Raup Omzet Jutaan Rupiah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Diduga Hendak Transaksi Sabu di Kebun Karet Kampar Kiri, Pria Dan Wanita Ini Dib Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pekanbaru
Dokter Spesialis Paru Ungkap Bahaya Kabut Asap Karhutla bagi Kesehatan
Dokter Spesialis Paru, dr Indra Yofi saat diwawancarai di RS Eka Hospital, Kota Pekanbaru pada Kamis, (27/8/2026). Foto: Abdul Haris/ Pekanbaru TV
Dokter Spesialis Paru Ungkap Bahaya Kabut Asap Karhutla bagi Kesehatan
Editor: Ridho Haztil | Penulis: abdul haris
Rubrik: news | 27 Agustus 2026 | 16:22:38

PEKANBARU-Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Paparan asap secara terus-menerus dapat memicu gangguan pada saluran pernapasan, mulai dari peradangan hingga infeksi yang lebih serius.

Dokter spesialis paru RSUD Arifin Achmad, dr Indra Yofi mengatakan dampak paparan kabut asap dapat dibedakan menjadi dua, yakni efek akut dalam jangka pendek dan efek kronis dalam jangka panjang.

“Ada dua efek. Kita harus bicara efek akut dan efek kronik. Efek akut efek jangka pendek, efek kronik efek jangka panjang,” kata Yofi saat diwawancarai jurnalis Pekanbaru TV di Rumah Sakit Eka Hospital, Kota Pekanbaru, Kamis (27/8/2026).

iklan-view

Menurut Yofi, efek akut dapat muncul ketika seseorang terpapar kabut asap dalam waktu relatif singkat. Paparan tersebut dapat menyebabkan peradangan atau infeksi pada saluran pernapasan. Keluhan serupa juga dapat muncul pada mata dan kulit.

Gangguan pada saluran pernapasan, kata dia, tidak berhenti pada gejala ringan. Dalam kondisi tertentu, paparan tersebut dapat berkembang menjadi infeksi saluran pernapasan bagian bawah hingga pneumonia.

Karena itu, masyarakat yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah kondisi kabut asap diminta tidak mengabaikannya. Pemeriksaan medis diperlukan apabila keluhan semakin berat atau tidak kunjung membaik.

Yofi menjelaskan dampak jangka panjang paparan asap tidak selalu dapat dirasakan secara langsung. Gangguan kesehatan akibat paparan berulang dapat baru terlihat beberapa tahun kemudian. “Efek jangka panjangnya kita gak lihat sekarang, tapi 5 atau 10 tahun ke depan,” lanjutnya.

Kelompok rentan menjadi perhatian khusus dalam kondisi tersebut. Bayi, balita, anak-anak dan remaja di bawah 15 tahun serta lansia dinilai lebih mudah terdampak karena sistem pernapasan mereka lebih rentan terhadap paparan polutan di udara.

Selain dampak terhadap kesehatan, Yofi menilai jumlah kasus ISPA yang tercatat di Riau kemungkinan belum menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Data Dinas Kesehatan Provinsi Riau yang mencapai 950 kasus, menurutnya, masih mungkin lebih rendah dibandingkan jumlah kasus yang terjadi.

“Tinggi, dan mestinya lebih tinggi daripada itu. Artinya kalau kita bicara di lapangan, kemungkinan besar angka dari dunia kesehatan mungkin tidak sepenuhnya ter-record,” bebernya.

Ia mengatakan paparan kabut asap dan peningkatan gangguan pernapasan memiliki keterkaitan. Namun, tidak seluruh masyarakat yang mengalami gejala ISPA kemudian tercatat dalam sistem layanan kesehatan.

Di tengah karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Riau, Yofi meminta masyarakat lebih memperhatikan kondisi kesehatan. Terutama bagi kelompok rentan, upaya mengurangi paparan asap perlu dilakukan selama kualitas udara belum membaik

Home / News
Dokter Spesialis Paru Ungkap Bahaya Kabut Asap Karhutla bagi Kesehatan
Editor: Ridho Haztil | Penulis: abdul haris
Rubrik: news | 27 Agustus 2026 | 16:22:38
Dokter Spesialis Paru Ungkap Bahaya Kabut Asap Karhutla bagi Kesehatan
Dokter Spesialis Paru, dr Indra Yofi saat diwawancarai di RS Eka Hospital, Kota Pekanbaru pada Kamis, (27/8/2026). Foto: Abdul Haris/ Pekanbaru TV

PEKANBARU-Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Paparan asap secara terus-menerus dapat memicu gangguan pada saluran pernapasan, mulai dari peradangan hingga infeksi yang lebih serius.

Dokter spesialis paru RSUD Arifin Achmad, dr Indra Yofi mengatakan dampak paparan kabut asap dapat dibedakan menjadi dua, yakni efek akut dalam jangka pendek dan efek kronis dalam jangka panjang.

“Ada dua efek. Kita harus bicara efek akut dan efek kronik. Efek akut efek jangka pendek, efek kronik efek jangka panjang,” kata Yofi saat diwawancarai jurnalis Pekanbaru TV di Rumah Sakit Eka Hospital, Kota Pekanbaru, Kamis (27/8/2026).

Menurut Yofi, efek akut dapat muncul ketika seseorang terpapar kabut asap dalam waktu relatif singkat. Paparan tersebut dapat menyebabkan peradangan atau infeksi pada saluran pernapasan. Keluhan serupa juga dapat muncul pada mata dan kulit.

Gangguan pada saluran pernapasan, kata dia, tidak berhenti pada gejala ringan. Dalam kondisi tertentu, paparan tersebut dapat berkembang menjadi infeksi saluran pernapasan bagian bawah hingga pneumonia.

Karena itu, masyarakat yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah kondisi kabut asap diminta tidak mengabaikannya. Pemeriksaan medis diperlukan apabila keluhan semakin berat atau tidak kunjung membaik.

Yofi menjelaskan dampak jangka panjang paparan asap tidak selalu dapat dirasakan secara langsung. Gangguan kesehatan akibat paparan berulang dapat baru terlihat beberapa tahun kemudian. “Efek jangka panjangnya kita gak lihat sekarang, tapi 5 atau 10 tahun ke depan,” lanjutnya.

Kelompok rentan menjadi perhatian khusus dalam kondisi tersebut. Bayi, balita, anak-anak dan remaja di bawah 15 tahun serta lansia dinilai lebih mudah terdampak karena sistem pernapasan mereka lebih rentan terhadap paparan polutan di udara.

Selain dampak terhadap kesehatan, Yofi menilai jumlah kasus ISPA yang tercatat di Riau kemungkinan belum menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Data Dinas Kesehatan Provinsi Riau yang mencapai 950 kasus, menurutnya, masih mungkin lebih rendah dibandingkan jumlah kasus yang terjadi.

“Tinggi, dan mestinya lebih tinggi daripada itu. Artinya kalau kita bicara di lapangan, kemungkinan besar angka dari dunia kesehatan mungkin tidak sepenuhnya ter-record,” bebernya.

Ia mengatakan paparan kabut asap dan peningkatan gangguan pernapasan memiliki keterkaitan. Namun, tidak seluruh masyarakat yang mengalami gejala ISPA kemudian tercatat dalam sistem layanan kesehatan.

Di tengah karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Riau, Yofi meminta masyarakat lebih memperhatikan kondisi kesehatan. Terutama bagi kelompok rentan, upaya mengurangi paparan asap perlu dilakukan selama kualitas udara belum membaik