
TAHERAN-Harga minyak dunia jatuh tajam pada Jumat (17/4/2026) setelah Iran memastikan jalur strategis Selat Hormuz kembali dibuka untuk pelayaran internasional.
Keputusan ini langsung meredakan kekhawatiran pasar global terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan pembukaan Selat Hormuz dilakukan seiring berlakunya gencatan senjata antara Lebanon dan Israel.
Jalur tersebut kini dapat dilintasi kapal dagang melalui rute yang telah diatur otoritas maritim Iran selama masa gencatan berlangsung.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi minyak dunia yang menghubungkan kawasan Teluk Arab dengan Samudera Hindia.
Rute ini menjadi lintasan utama ekspor minyak dari negara-negara produsen seperti Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.
Merespons kabar tersebut, harga minyak mentah global langsung terkoreksi signifikan. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) turun 10,29 persen atau 9,47 dolar AS ke level 84,95 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak Brent melemah 8,52 persen menjadi 90,87 dolar AS per barel.
Penurunan harga minyak dunia ini juga berdampak positif pada pasar saham global. Indeks S&P 500 menguat 1,2 persen, disusul Dow Jones yang melonjak 1,8 persen.
Nasdaq Composite pun naik 1,5 persen, didorong optimisme meredanya konflik geopolitik.
Namun situasi belum sepenuhnya stabil. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan blokade terhadap pelabuhan Iran masih diberlakukan hingga tercapai kesepakatan damai penuh.
Pernyataan tersebut memicu ketegangan baru di tengah upaya deeskalasi konflik.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa Selat Hormuz bisa kembali ditutup jika tekanan terhadap Iran terus berlanjut.
Ia menegaskan kebijakan terkait jalur pelayaran ditentukan berdasarkan kondisi lapangan, bukan pernyataan politik di media sosial.
Ketidakpastian ini membuat pasar tetap waspada. Meski harga minyak dunia turun, potensi gejolak masih terbuka jika konflik kembali memanas atau jalur distribusi energi terganggu. (kpc)






TAHERAN-Harga minyak dunia jatuh tajam pada Jumat (17/4/2026) setelah Iran memastikan jalur strategis Selat Hormuz kembali dibuka untuk pelayaran internasional.
Keputusan ini langsung meredakan kekhawatiran pasar global terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan pembukaan Selat Hormuz dilakukan seiring berlakunya gencatan senjata antara Lebanon dan Israel.
Jalur tersebut kini dapat dilintasi kapal dagang melalui rute yang telah diatur otoritas maritim Iran selama masa gencatan berlangsung.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi minyak dunia yang menghubungkan kawasan Teluk Arab dengan Samudera Hindia.
Rute ini menjadi lintasan utama ekspor minyak dari negara-negara produsen seperti Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.
Merespons kabar tersebut, harga minyak mentah global langsung terkoreksi signifikan. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) turun 10,29 persen atau 9,47 dolar AS ke level 84,95 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak Brent melemah 8,52 persen menjadi 90,87 dolar AS per barel.
Penurunan harga minyak dunia ini juga berdampak positif pada pasar saham global. Indeks S&P 500 menguat 1,2 persen, disusul Dow Jones yang melonjak 1,8 persen.
Nasdaq Composite pun naik 1,5 persen, didorong optimisme meredanya konflik geopolitik.
Namun situasi belum sepenuhnya stabil. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan blokade terhadap pelabuhan Iran masih diberlakukan hingga tercapai kesepakatan damai penuh.
Pernyataan tersebut memicu ketegangan baru di tengah upaya deeskalasi konflik.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa Selat Hormuz bisa kembali ditutup jika tekanan terhadap Iran terus berlanjut.
Ia menegaskan kebijakan terkait jalur pelayaran ditentukan berdasarkan kondisi lapangan, bukan pernyataan politik di media sosial.
Ketidakpastian ini membuat pasar tetap waspada. Meski harga minyak dunia turun, potensi gejolak masih terbuka jika konflik kembali memanas atau jalur distribusi energi terganggu. (kpc)