logo
Banjir Dahsyat Terjang Perbatasan Nepal-Tibet, Sedikitnya 97 Tewas dan 384 Wisat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Nyaris Stagnan di Rp17.725 per Dolar AS, Pasar Menanti Sinyal Ketua The F Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 549 Warga Pelalawan Terserang ISPA, Kabut Asap Karhutla Mulai Mengancam Kesehata Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Jelang Aksi 27 Agustus: Polri Perketat Jalur Masuk Jakarta, Massa dari Sumatera Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kabut Asap Mulai Selimuti Rohil, Tiga Hotspot Terdeteksi, Pemerintah Diminta Tak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 37 Orang Ditetapkan Jadi Tersangka Karhutla di Riau, Polda: Semuanya Pelaku Pero Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Puluhan Tahun Dinanti, Jalan Poros Kuba Rusak Parah, Warga Tagih Keseriusan Peme Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polda Riau Gulung Sindikat Curanmor Lintas Provinsi: 6 Tersangka Ditangkap, 44 M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Hukum / PEKANBARU
Sidang Abdul Wahid: Thomas Mengaku Diperintah SF Hariyanto Cari Dana Rp300 Juta untuk Rehab Rumdis Kapolda
Suasana lanjutan sidang Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid. (Foto: Rico)
Sidang Abdul Wahid: Thomas Mengaku Diperintah SF Hariyanto Cari Dana Rp300 Juta untuk Rehab Rumdis Kapolda
Editor: Arya Mahendra | Penulis: Rico Syahputra
Rubrik: hukum | 20 Mei 2026 | 16:19:41

PEKANBARU — Sidang lanjutan dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid kembali mengungkap sejumlah fakta baru di Pengadilan Tipikor Pekanbaru, Rabu (20/5/2026). Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK mendalami dugaan aliran dana, pengumpulan uang, hingga praktik penitipan jabatan di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau.

Salah satu saksi yang diperiksa ialah Plt Kepala Dinas PUPRPKPP Riau, Thomas Larfo Dimeira. Saat perkara itu terjadi, Thomas menjabat Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setdaprov Riau.

Di hadapan majelis hakim, Thomas mengungkap adanya permintaan pengumpulan dana sebesar Rp300 juta yang disebut untuk perbaikan rumah dinas (rumdis) Kapolda Riau. Ia mengaku perintah itu berasal dari SF Hariyanto yang saat itu menjabat Wakil Gubernur Riau.

iklan-view

“Saya diperintah pimpinan, Wakil Gubernur, untuk membantu memperbaiki rumah dinas Polda,” ujar Thomas dalam persidangan.

Usai menerima arahan tersebut, Thomas menghubungi Arief Setiawan dan menghadiri pertemuan di Hotel Pangeran Pekanbaru. Menurutnya, dalam pertemuan itu hadir Kapolda Riau, Wakil Gubernur Riau, serta sejumlah pihak lainnya.

Thomas menyebut Arief Setiawan membawa sebuah goodie bag yang kemudian digeser kepada pihak swasta bernama Puji.

“Rp300 juta,” jawab Thomas saat ditanya jaksa mengenai nominal uang yang diserahkan.

Namun, Thomas mengaku tidak mengetahui secara rinci penggunaan uang tersebut. Belakangan, ia mengetahui dana itu tidak jadi digunakan dan telah dikembalikan ke rekening penampungan KPK.

Jaksa kemudian mendalami apakah pengumpulan dana itu berkaitan dengan tugas pokok Thomas sebagai pejabat biro pembangunan.

“Tidak,” jawab Thomas singkat.

Ia juga mengaku tidak mengetahui alasan dirinya diminta mengurus kebutuhan tersebut, meski memastikan arahan berasal dari SF Hariyanto.

Persidangan sempat memanas ketika kuasa hukum terdakwa meminta majelis hakim menghadirkan SF Hariyanto sebagai saksi karena namanya berulang kali disebut dalam persidangan.

“Kesaksian Pak SF Hariyanto sangat penting untuk membuat perkara ini terang benderang,” ujar kuasa hukum terdakwa.

Ketua Ormas Akui Terima Rp50 Juta

Dalam sidang yang sama, saksi lainnya, Iwan Pansa, mengaku menerima uang Rp50 juta dari Arief Setiawan untuk kebutuhan Musyawarah Besar (Mubes) organisasi di Jakarta pada Oktober 2025.

“Saya kenal Arief dan teman baik,” ujar Ketua Pemuda Pancasila Pekanbaru tersebut.

Iwan menjelaskan uang diterima dalam dua tahap, masing-masing Rp25 juta. Ia mengaku permintaan bantuan dilakukan secara pribadi tanpa proposal maupun tanda terima resmi organisasi.

“Sebagai teman baik, saya minta,” katanya.

Menurut Iwan, uang itu diserahkan melalui Feri Yunanda di kawasan Jalan Sudirman, Pekanbaru.

“Feri yang menyerahkan sebanyak dua kali,” ujarnya.

JPU juga menyinggung pengembalian uang Rp50 juta yang dilakukan Iwan pada 18 Mei 2026. Saat ditanya alasan pengembalian baru dilakukan, ia mengaku baru memiliki uang.

“Baru punya uang,” jawabnya singkat.

Selain itu, jaksa turut mendalami dugaan adanya permintaan dana lain di luar Rp50 juta dengan nominal berbeda. Namun, Iwan mengaku tidak mengingat total keseluruhan uang yang pernah diterimanya.

Dugaan Titipan Jabatan

Sementara itu, saksi Hatta Said diperiksa terkait dugaan praktik penitipan jabatan dan pengurusan mutasi pejabat di lingkungan Pemprov Riau.

Melalui rekaman percakapan yang diputar di persidangan, Hatta mengakui istilah “satu pintu” dalam pengurusan mutasi merujuk kepada seseorang bernama Dani.

Jaksa kemudian mendalami posisi Dani dalam mekanisme tersebut.

“Apakah Pak Dani ini orang kepercayaan atau perwakilannya Pak Gubernur?” tanya jaksa.

“Tenaga ahli,” jawab Hatta.

Namun, saat didalami lebih lanjut, Hatta mengakui Dani merupakan orang kepercayaan gubernur. Jaksa juga mengungkap dugaan adanya penitipan nama untuk kepentingan jabatan melalui jalur tersebut.

Sidang berlangsung hingga sore hari dengan pengamanan ketat aparat kepolisian. Persidangan ini terus menyita perhatian publik karena memunculkan dugaan keterlibatan sejumlah pejabat, pihak swasta, hingga tokoh organisasi kemasyarakatan di Riau. (ric)

Home / Hukum
Sidang Abdul Wahid: Thomas Mengaku Diperintah SF Hariyanto Cari Dana Rp300 Juta untuk Rehab Rumdis Kapolda
Editor: Arya Mahendra | Penulis: Rico Syahputra
Rubrik: hukum | 20 Mei 2026 | 16:19:41
Sidang Abdul Wahid: Thomas Mengaku Diperintah SF Hariyanto Cari Dana Rp300 Juta untuk Rehab Rumdis Kapolda
Suasana lanjutan sidang Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid. (Foto: Rico)

PEKANBARU — Sidang lanjutan dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid kembali mengungkap sejumlah fakta baru di Pengadilan Tipikor Pekanbaru, Rabu (20/5/2026). Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK mendalami dugaan aliran dana, pengumpulan uang, hingga praktik penitipan jabatan di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau.

Salah satu saksi yang diperiksa ialah Plt Kepala Dinas PUPRPKPP Riau, Thomas Larfo Dimeira. Saat perkara itu terjadi, Thomas menjabat Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setdaprov Riau.

Di hadapan majelis hakim, Thomas mengungkap adanya permintaan pengumpulan dana sebesar Rp300 juta yang disebut untuk perbaikan rumah dinas (rumdis) Kapolda Riau. Ia mengaku perintah itu berasal dari SF Hariyanto yang saat itu menjabat Wakil Gubernur Riau.

“Saya diperintah pimpinan, Wakil Gubernur, untuk membantu memperbaiki rumah dinas Polda,” ujar Thomas dalam persidangan.

Usai menerima arahan tersebut, Thomas menghubungi Arief Setiawan dan menghadiri pertemuan di Hotel Pangeran Pekanbaru. Menurutnya, dalam pertemuan itu hadir Kapolda Riau, Wakil Gubernur Riau, serta sejumlah pihak lainnya.

Thomas menyebut Arief Setiawan membawa sebuah goodie bag yang kemudian digeser kepada pihak swasta bernama Puji.

“Rp300 juta,” jawab Thomas saat ditanya jaksa mengenai nominal uang yang diserahkan.

Namun, Thomas mengaku tidak mengetahui secara rinci penggunaan uang tersebut. Belakangan, ia mengetahui dana itu tidak jadi digunakan dan telah dikembalikan ke rekening penampungan KPK.

Jaksa kemudian mendalami apakah pengumpulan dana itu berkaitan dengan tugas pokok Thomas sebagai pejabat biro pembangunan.

“Tidak,” jawab Thomas singkat.

Ia juga mengaku tidak mengetahui alasan dirinya diminta mengurus kebutuhan tersebut, meski memastikan arahan berasal dari SF Hariyanto.

Persidangan sempat memanas ketika kuasa hukum terdakwa meminta majelis hakim menghadirkan SF Hariyanto sebagai saksi karena namanya berulang kali disebut dalam persidangan.

“Kesaksian Pak SF Hariyanto sangat penting untuk membuat perkara ini terang benderang,” ujar kuasa hukum terdakwa.

Ketua Ormas Akui Terima Rp50 Juta

Dalam sidang yang sama, saksi lainnya, Iwan Pansa, mengaku menerima uang Rp50 juta dari Arief Setiawan untuk kebutuhan Musyawarah Besar (Mubes) organisasi di Jakarta pada Oktober 2025.

“Saya kenal Arief dan teman baik,” ujar Ketua Pemuda Pancasila Pekanbaru tersebut.

Iwan menjelaskan uang diterima dalam dua tahap, masing-masing Rp25 juta. Ia mengaku permintaan bantuan dilakukan secara pribadi tanpa proposal maupun tanda terima resmi organisasi.

“Sebagai teman baik, saya minta,” katanya.

Menurut Iwan, uang itu diserahkan melalui Feri Yunanda di kawasan Jalan Sudirman, Pekanbaru.

“Feri yang menyerahkan sebanyak dua kali,” ujarnya.

JPU juga menyinggung pengembalian uang Rp50 juta yang dilakukan Iwan pada 18 Mei 2026. Saat ditanya alasan pengembalian baru dilakukan, ia mengaku baru memiliki uang.

“Baru punya uang,” jawabnya singkat.

Selain itu, jaksa turut mendalami dugaan adanya permintaan dana lain di luar Rp50 juta dengan nominal berbeda. Namun, Iwan mengaku tidak mengingat total keseluruhan uang yang pernah diterimanya.

Dugaan Titipan Jabatan

Sementara itu, saksi Hatta Said diperiksa terkait dugaan praktik penitipan jabatan dan pengurusan mutasi pejabat di lingkungan Pemprov Riau.

Melalui rekaman percakapan yang diputar di persidangan, Hatta mengakui istilah “satu pintu” dalam pengurusan mutasi merujuk kepada seseorang bernama Dani.

Jaksa kemudian mendalami posisi Dani dalam mekanisme tersebut.

“Apakah Pak Dani ini orang kepercayaan atau perwakilannya Pak Gubernur?” tanya jaksa.

“Tenaga ahli,” jawab Hatta.

Namun, saat didalami lebih lanjut, Hatta mengakui Dani merupakan orang kepercayaan gubernur. Jaksa juga mengungkap dugaan adanya penitipan nama untuk kepentingan jabatan melalui jalur tersebut.

Sidang berlangsung hingga sore hari dengan pengamanan ketat aparat kepolisian. Persidangan ini terus menyita perhatian publik karena memunculkan dugaan keterlibatan sejumlah pejabat, pihak swasta, hingga tokoh organisasi kemasyarakatan di Riau. (ric)