
ROKAN HILIR - Ratusan siswa di SMP Negeri 3 Sinaboi, Kecamatan Sinaboi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, hingga kini menjalani proses belajar mengajar di gedung sekolah yang mengalami kerusakan parah. Kondisi sekolah tersebut dinilai sudah tidak layak digunakan dan membahayakan keselamatan siswa maupun tenaga pendidik.
Sekolah yang berada di wilayah pesisir serta berbatasan langsung dengan Malaysia itu mengalami kerusakan hampir di seluruh bagian bangunan. Lantai ruang kelas berlubang, atap bangunan lapuk dan bocor saat hujan, serta sejumlah fasilitas lainnya sudah mengalami kerusakan akibat usia bangunan yang cukup tua.

Meski berada dalam keterbatasan, semangat belajar para siswa tidak pernah surut. Setiap hari mereka tetap mengikuti proses pembelajaran bersama para guru meskipun harus menghadapi berbagai risiko akibat kondisi bangunan yang memprihatinkan.
Lantai kelas yang berlubang menjadi ancaman serius bagi keselamatan siswa. Selain mengganggu aktivitas belajar, kondisi tersebut juga berpotensi menyebabkan kecelakaan ketika siswa beraktivitas di dalam ruang kelas.
Mirisnya, salah satu bangunan permanen yang berada di lingkungan sekolah justru dibangun melalui bantuan seorang alumni keturunan Tionghoa sebagai bentuk kepedulian terhadap almamaternya. Bangunan tersebut hingga kini masih dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
Kepala SMP Negeri 3 Sinaboi, Bambang Hermanto, mengatakan pihak sekolah sangat berharap adanya perhatian dari pemerintah terhadap kondisi sekolah yang sudah lama mengalami kerusakan.
"Beginilah kondisi sekolah kami, Bang. Kami sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah untuk pembangunan sekolah," kata Bambang Hermanto kepada wartawan Pekanbarutv.com, Selasa (4/8/2026).

Ia menjelaskan, sekolah yang berdiri sejak era 1990-an itu belum pernah mendapatkan pembangunan maupun rehabilitasi secara menyeluruh dari pemerintah. Akibatnya, kondisi bangunan terus mengalami penurunan dan kini sebagian ruang kelas sudah tidak layak digunakan.
"Ada dua ruang kelas yang kondisinya rusak. Bangunan ini sejak tahun 90-an belum pernah disentuh pemerintah untuk pembangunan ataupun rehabilitasinya," ujarnya.
Keluhan juga datang dari salah seorang siswi kelas IX, Ayra. Menurutnya, kondisi lantai ruang kelas yang berlubang sangat membahayakan para siswa saat mengikuti pelajaran.

"Sekolah kami sangat buruk sekali. Lantainya berlubang, bahkan saya pernah jatuh dan pingsan," tutur Ayra.
Saat ini, sekitar 100 siswa masih menimba ilmu di SMP Negeri 3 Sinaboi dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan. Pihak sekolah, guru, orang tua, dan para siswa berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan atau rehabilitasi gedung sekolah agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan aman, nyaman, dan layak, sehingga anak-anak di wilayah perbatasan memperoleh hak pendidikan yang setara dengan daerah lainnya. (rom)





ROKAN HILIR - Ratusan siswa di SMP Negeri 3 Sinaboi, Kecamatan Sinaboi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, hingga kini menjalani proses belajar mengajar di gedung sekolah yang mengalami kerusakan parah. Kondisi sekolah tersebut dinilai sudah tidak layak digunakan dan membahayakan keselamatan siswa maupun tenaga pendidik.
Sekolah yang berada di wilayah pesisir serta berbatasan langsung dengan Malaysia itu mengalami kerusakan hampir di seluruh bagian bangunan. Lantai ruang kelas berlubang, atap bangunan lapuk dan bocor saat hujan, serta sejumlah fasilitas lainnya sudah mengalami kerusakan akibat usia bangunan yang cukup tua.

Meski berada dalam keterbatasan, semangat belajar para siswa tidak pernah surut. Setiap hari mereka tetap mengikuti proses pembelajaran bersama para guru meskipun harus menghadapi berbagai risiko akibat kondisi bangunan yang memprihatinkan.
Lantai kelas yang berlubang menjadi ancaman serius bagi keselamatan siswa. Selain mengganggu aktivitas belajar, kondisi tersebut juga berpotensi menyebabkan kecelakaan ketika siswa beraktivitas di dalam ruang kelas.
Mirisnya, salah satu bangunan permanen yang berada di lingkungan sekolah justru dibangun melalui bantuan seorang alumni keturunan Tionghoa sebagai bentuk kepedulian terhadap almamaternya. Bangunan tersebut hingga kini masih dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
Kepala SMP Negeri 3 Sinaboi, Bambang Hermanto, mengatakan pihak sekolah sangat berharap adanya perhatian dari pemerintah terhadap kondisi sekolah yang sudah lama mengalami kerusakan.
"Beginilah kondisi sekolah kami, Bang. Kami sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah untuk pembangunan sekolah," kata Bambang Hermanto kepada wartawan Pekanbarutv.com, Selasa (4/8/2026).

Ia menjelaskan, sekolah yang berdiri sejak era 1990-an itu belum pernah mendapatkan pembangunan maupun rehabilitasi secara menyeluruh dari pemerintah. Akibatnya, kondisi bangunan terus mengalami penurunan dan kini sebagian ruang kelas sudah tidak layak digunakan.
"Ada dua ruang kelas yang kondisinya rusak. Bangunan ini sejak tahun 90-an belum pernah disentuh pemerintah untuk pembangunan ataupun rehabilitasinya," ujarnya.
Keluhan juga datang dari salah seorang siswi kelas IX, Ayra. Menurutnya, kondisi lantai ruang kelas yang berlubang sangat membahayakan para siswa saat mengikuti pelajaran.

"Sekolah kami sangat buruk sekali. Lantainya berlubang, bahkan saya pernah jatuh dan pingsan," tutur Ayra.
Saat ini, sekitar 100 siswa masih menimba ilmu di SMP Negeri 3 Sinaboi dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan. Pihak sekolah, guru, orang tua, dan para siswa berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan atau rehabilitasi gedung sekolah agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan aman, nyaman, dan layak, sehingga anak-anak di wilayah perbatasan memperoleh hak pendidikan yang setara dengan daerah lainnya. (rom)