logo
Banjir Dahsyat Terjang Perbatasan Nepal-Tibet, Sedikitnya 97 Tewas dan 384 Wisat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Nyaris Stagnan di Rp17.725 per Dolar AS, Pasar Menanti Sinyal Ketua The F Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 549 Warga Pelalawan Terserang ISPA, Kabut Asap Karhutla Mulai Mengancam Kesehata Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Jelang Aksi 27 Agustus: Polri Perketat Jalur Masuk Jakarta, Massa dari Sumatera Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kabut Asap Mulai Selimuti Rohil, Tiga Hotspot Terdeteksi, Pemerintah Diminta Tak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 37 Orang Ditetapkan Jadi Tersangka Karhutla di Riau, Polda: Semuanya Pelaku Pero Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Puluhan Tahun Dinanti, Jalan Poros Kuba Rusak Parah, Warga Tagih Keseriusan Peme Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polda Riau Gulung Sindikat Curanmor Lintas Provinsi: 6 Tersangka Ditangkap, 44 M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Hukum / Hukum
Benarkah Data 3 Juta e-Visa Indonesia Bocor di Medsos? Ini Penjelasan Ditjen Imigrasi
Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko.
Benarkah Data 3 Juta e-Visa Indonesia Bocor di Medsos? Ini Penjelasan Ditjen Imigrasi
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: hukum | 28 April 2026 | 11:02:28

JAKARTA - Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) melakukan investigasi terkait informasi peretasan sistem visa elektronik atau e-Visa Indonesia yang menyebabkan 3 juta data Imigrasi bocor di media sosial dan memastikan hal itu adalah hoaks.

“(Info) itu hoaks,” kata Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko saat dikonfirmasi antaranews, di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Hendarsam menjelaskan, Ditjen Imigrasi telah memberikan atensi khusus terhadap kejadian tersebut dan langsung melakukan pengecekan pada hari kabar itu diperoleh.

“Tidak benar bahwa data imigrasi telah mengalami kebocoran,” ujarnya.

Menurut dia, bukti bahwa informasi itu bohong berdasarkan unggahan yang beredar disebut bahwa klaim tersebut masih belum terverifikasi dan kredibilitas pengunggah tergolong rendah dikarenakan menggunakan akun baru.

Dia menjelaskan dari investigasi awal, ditemukan perbedaan field database yang beredar dengan field database milik imigrasi.

“Kami pastikan bahwa tidak ada akses langsung ke database imigrasi, dan data tersebut diduga berasal dari login pengguna layanan yang disalahgunakan,” ungkapnya.

Informasi kebocoran data imigrasi ini beredar dalam sebuah unggahan di media sosial. Data imigrasi itu dibocorkan dan diperjualbelikan di situs dark web. Pemilik akun mengklaim telah membocorkan 3 juta data dari laman e-Visa Indonesia (https://evisa.imigrasi.go.id/).

Pemilik akun menyebut data itu mencakup nomor paspor, nama lengkap, status visa hingga pengindetifikasi visa.

Hendarsam menegaskan komitmen Ditjen Imigrasi untuk mengoptimalkan kenyamanan dan keamanan pada seluruh layanan keimigrasian.

“Imigrasi terus berkomitmen untuk mengoptimalkan kenyamanan dan keamanan pada seluruh layanan keimigrasian,” kata Hendarsam. (ntr)

Home / Hukum
Benarkah Data 3 Juta e-Visa Indonesia Bocor di Medsos? Ini Penjelasan Ditjen Imigrasi
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: hukum | 28 April 2026 | 11:02:28
Benarkah Data 3 Juta e-Visa Indonesia Bocor di Medsos? Ini Penjelasan Ditjen Imigrasi
Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko.

JAKARTA - Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) melakukan investigasi terkait informasi peretasan sistem visa elektronik atau e-Visa Indonesia yang menyebabkan 3 juta data Imigrasi bocor di media sosial dan memastikan hal itu adalah hoaks.

“(Info) itu hoaks,” kata Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko saat dikonfirmasi antaranews, di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Hendarsam menjelaskan, Ditjen Imigrasi telah memberikan atensi khusus terhadap kejadian tersebut dan langsung melakukan pengecekan pada hari kabar itu diperoleh.

“Tidak benar bahwa data imigrasi telah mengalami kebocoran,” ujarnya.

Menurut dia, bukti bahwa informasi itu bohong berdasarkan unggahan yang beredar disebut bahwa klaim tersebut masih belum terverifikasi dan kredibilitas pengunggah tergolong rendah dikarenakan menggunakan akun baru.

Dia menjelaskan dari investigasi awal, ditemukan perbedaan field database yang beredar dengan field database milik imigrasi.

“Kami pastikan bahwa tidak ada akses langsung ke database imigrasi, dan data tersebut diduga berasal dari login pengguna layanan yang disalahgunakan,” ungkapnya.

Informasi kebocoran data imigrasi ini beredar dalam sebuah unggahan di media sosial. Data imigrasi itu dibocorkan dan diperjualbelikan di situs dark web. Pemilik akun mengklaim telah membocorkan 3 juta data dari laman e-Visa Indonesia (https://evisa.imigrasi.go.id/).

Pemilik akun menyebut data itu mencakup nomor paspor, nama lengkap, status visa hingga pengindetifikasi visa.

Hendarsam menegaskan komitmen Ditjen Imigrasi untuk mengoptimalkan kenyamanan dan keamanan pada seluruh layanan keimigrasian.

“Imigrasi terus berkomitmen untuk mengoptimalkan kenyamanan dan keamanan pada seluruh layanan keimigrasian,” kata Hendarsam. (ntr)