logo
● Penampungan Solar Ilegal di Kampar Digerebek Polda, Sempat Dihalangi Warga Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● SF Hariyanto Raih Gelar ASEAN Engineer, Cetak Prestasi Bersejarah bagi Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kasus Sabu 46,93 Kg di Pekanbaru: Oknum TNI Ditahan Pomdam dan Terancam Dipecat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Lapas Bagansiapiapi Gagalkan Penyelundupan Liquid Vape Diduga Narkotika dalam Bo Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Pelajar 14 Tahun Tewas Tabrak Truk Parkir di Jalan SM Amin Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Pekanbarutv.com dan UIN Suska Riau Jalin Kerja Sama Tingkatkan Mutu Pendidikan, Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polda Riau Gagalkan Peredaran 46,9 Kg Sabu, Tersangka Babinsa dan Warga Sipil Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Direktur Toba Pulp Lestari Anwar Lawden Tersangka Dugaan Korupsi Rp 2 Triliun Tr Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Hukum / Hukum
Benarkah Data 3 Juta e-Visa Indonesia Bocor di Medsos? Ini Penjelasan Ditjen Imigrasi
Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko.
Benarkah Data 3 Juta e-Visa Indonesia Bocor di Medsos? Ini Penjelasan Ditjen Imigrasi
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: hukum | 28 April 2026 | 11:02:28

JAKARTA - Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) melakukan investigasi terkait informasi peretasan sistem visa elektronik atau e-Visa Indonesia yang menyebabkan 3 juta data Imigrasi bocor di media sosial dan memastikan hal itu adalah hoaks.

“(Info) itu hoaks,” kata Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko saat dikonfirmasi antaranews, di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Hendarsam menjelaskan, Ditjen Imigrasi telah memberikan atensi khusus terhadap kejadian tersebut dan langsung melakukan pengecekan pada hari kabar itu diperoleh.

“Tidak benar bahwa data imigrasi telah mengalami kebocoran,” ujarnya.

Menurut dia, bukti bahwa informasi itu bohong berdasarkan unggahan yang beredar disebut bahwa klaim tersebut masih belum terverifikasi dan kredibilitas pengunggah tergolong rendah dikarenakan menggunakan akun baru.

Dia menjelaskan dari investigasi awal, ditemukan perbedaan field database yang beredar dengan field database milik imigrasi.

“Kami pastikan bahwa tidak ada akses langsung ke database imigrasi, dan data tersebut diduga berasal dari login pengguna layanan yang disalahgunakan,” ungkapnya.

Informasi kebocoran data imigrasi ini beredar dalam sebuah unggahan di media sosial. Data imigrasi itu dibocorkan dan diperjualbelikan di situs dark web. Pemilik akun mengklaim telah membocorkan 3 juta data dari laman e-Visa Indonesia (https://evisa.imigrasi.go.id/).

Pemilik akun menyebut data itu mencakup nomor paspor, nama lengkap, status visa hingga pengindetifikasi visa.

Hendarsam menegaskan komitmen Ditjen Imigrasi untuk mengoptimalkan kenyamanan dan keamanan pada seluruh layanan keimigrasian.

“Imigrasi terus berkomitmen untuk mengoptimalkan kenyamanan dan keamanan pada seluruh layanan keimigrasian,” kata Hendarsam. (ntr)

Home / Hukum
Benarkah Data 3 Juta e-Visa Indonesia Bocor di Medsos? Ini Penjelasan Ditjen Imigrasi
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: hukum | 28 April 2026 | 11:02:28
Benarkah Data 3 Juta e-Visa Indonesia Bocor di Medsos? Ini Penjelasan Ditjen Imigrasi
Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko.

JAKARTA - Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) melakukan investigasi terkait informasi peretasan sistem visa elektronik atau e-Visa Indonesia yang menyebabkan 3 juta data Imigrasi bocor di media sosial dan memastikan hal itu adalah hoaks.

“(Info) itu hoaks,” kata Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko saat dikonfirmasi antaranews, di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Hendarsam menjelaskan, Ditjen Imigrasi telah memberikan atensi khusus terhadap kejadian tersebut dan langsung melakukan pengecekan pada hari kabar itu diperoleh.

“Tidak benar bahwa data imigrasi telah mengalami kebocoran,” ujarnya.

Menurut dia, bukti bahwa informasi itu bohong berdasarkan unggahan yang beredar disebut bahwa klaim tersebut masih belum terverifikasi dan kredibilitas pengunggah tergolong rendah dikarenakan menggunakan akun baru.

Dia menjelaskan dari investigasi awal, ditemukan perbedaan field database yang beredar dengan field database milik imigrasi.

“Kami pastikan bahwa tidak ada akses langsung ke database imigrasi, dan data tersebut diduga berasal dari login pengguna layanan yang disalahgunakan,” ungkapnya.

Informasi kebocoran data imigrasi ini beredar dalam sebuah unggahan di media sosial. Data imigrasi itu dibocorkan dan diperjualbelikan di situs dark web. Pemilik akun mengklaim telah membocorkan 3 juta data dari laman e-Visa Indonesia (https://evisa.imigrasi.go.id/).

Pemilik akun menyebut data itu mencakup nomor paspor, nama lengkap, status visa hingga pengindetifikasi visa.

Hendarsam menegaskan komitmen Ditjen Imigrasi untuk mengoptimalkan kenyamanan dan keamanan pada seluruh layanan keimigrasian.

“Imigrasi terus berkomitmen untuk mengoptimalkan kenyamanan dan keamanan pada seluruh layanan keimigrasian,” kata Hendarsam. (ntr)