logo
● Penampungan Solar Ilegal di Kampar Digerebek Polda, Sempat Dihalangi Warga Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● SF Hariyanto Raih Gelar ASEAN Engineer, Cetak Prestasi Bersejarah bagi Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kasus Sabu 46,93 Kg di Pekanbaru: Oknum TNI Ditahan Pomdam dan Terancam Dipecat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Lapas Bagansiapiapi Gagalkan Penyelundupan Liquid Vape Diduga Narkotika dalam Bo Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Pelajar 14 Tahun Tewas Tabrak Truk Parkir di Jalan SM Amin Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Pekanbarutv.com dan UIN Suska Riau Jalin Kerja Sama Tingkatkan Mutu Pendidikan, Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polda Riau Gagalkan Peredaran 46,9 Kg Sabu, Tersangka Babinsa dan Warga Sipil Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Direktur Toba Pulp Lestari Anwar Lawden Tersangka Dugaan Korupsi Rp 2 Triliun Tr Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Hukum / Internasional
RSF Tuding Israel Culik Jurnalis di Perairan Internasional saat Cegat Flotilla Gaza
apal penjaga pantai Yunani memindahkan para aktivis dari armada Global Sumud Flotilla, yang dicegat di perairan internasional oleh angkatan laut Israel, di Pelabuhan Atherinolakkos, Pulau Kreta, Yunani, 1 Mei 2026 [Stefanos Rapanis/Reuters]
RSF Tuding Israel Culik Jurnalis di Perairan Internasional saat Cegat Flotilla Gaza
Editor: putrajaya
Rubrik: hukum | 1 Mei 2026 | 20:43:58

Riau - Ketegangan di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, memicu gelombang kecaman global setelah Reporters Without Borders menuding militer Israel melakukan dugaan penculikan terhadap jurnalis dan aktivis sipil yang berada dalam armada bantuan menuju Gaza.

Armada yang dikenal sebagai Global Sumud Flotilla itu bukan konvoi kecil. Laporan sejumlah media internasional menyebut lebih dari 20 kapal - bahkan hingga puluhan unit -  berlayar bersama dalam satu misi kemanusiaan lintas negara. Kapal-kapal tersebut berangkat dari berbagai pelabuhan di kawasan Mediterania, termasuk Barcelona di Spanyol serta sejumlah pelabuhan di Italia, sebelum berkumpul dan bergerak menuju Jalur Gaza.

Dalam pernyataannya, Amnesty International menyebut, ratusan orang dari puluhan negara ikut serta. Mereka bukan hanya aktivis, tetapi juga tenaga medis, relawan kemanusiaan, hingga jurnalis internasional yang meliput langsung perjalanan tersebut. Tujuan mereka jelas: menembus blokade laut dan mengantarkan bantuan ke Gaza, yang selama ini menghadapi krisis kemanusiaan berkepanjangan.

iklan-view

Muatan kapal disebut berisi bantuan sipil seperti makanan, susu bayi, dan perlengkapan medis, jenis logistik yang oleh penyelenggara dianggap sangat dibutuhkan warga Gaza.

Namun perjalanan itu terhenti di laut lepas. Militer Israel mencegat armada tersebut di perairan internasional, ratusan mil dari wilayah Gaza. Dalam operasi itu, menurut laporan Reuters dan The Guardian, sedikitnya sekitar 175 orang ditahan, termasuk awak kapal dan peserta misi.

Di antara mereka terdapat tiga jurnalis yang kemudian menjadi sorotan: Hafed Mribah dan Mahmut Yavuz dari Al Jazeera, serta Alex Colston dari media Amerika Serikat, Zeteo. Ketiganya berada di kapal untuk meliput misi tersebut, namun ikut ditahan saat operasi berlangsung.

Organisasi kebebasan pers internasional menilai penangkapan itu bukan sekadar tindakan keamanan, melainkan dugaan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. RSF menyebut penahanan jurnalis di laut lepas sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan, apalagi mereka tidak terlibat dalam konflik bersenjata.

Kritik juga datang dari berbagai pihak yang menyoroti lokasi kejadian. Operasi dilakukan jauh dari wilayah kedaulatan Israel, memperkuat tudingan bahwa tindakan tersebut melanggar hukum laut internasional. Beberapa pihak bahkan menyebutnya sebagai bentuk “perampasan” di laut terbuka.

Situasi semakin memanas setelah laporan menyebut komunikasi kapal sempat terganggu dan sejumlah armada mengalami kerusakan saat pencegatan berlangsung. Tuduhan ini belum sepenuhnya diverifikasi secara independen, namun memperkuat kekhawatiran atas keselamatan para penumpang.

Hingga kini, nasib sebagian dari mereka masih belum jelas. Sejumlah aktivis dilaporkan dibawa ke wilayah Yunani, sementara lainnya sempat berada dalam penguasaan otoritas Israel. Tekanan internasional terus meningkat, dengan tuntutan agar semua yang ditahan segera dibebaskan dan diberikan akses hukum.

Insiden ini kembali membuka luka lama: perdebatan soal batas kewenangan militer di laut internasional, serta keselamatan jurnalis yang bekerja di wilayah konflik yang kian kompleks.

Home / Hukum
RSF Tuding Israel Culik Jurnalis di Perairan Internasional saat Cegat Flotilla Gaza
Editor: putrajaya
Rubrik: hukum | 1 Mei 2026 | 20:43:58
RSF Tuding Israel Culik Jurnalis di Perairan Internasional saat Cegat Flotilla Gaza
apal penjaga pantai Yunani memindahkan para aktivis dari armada Global Sumud Flotilla, yang dicegat di perairan internasional oleh angkatan laut Israel, di Pelabuhan Atherinolakkos, Pulau Kreta, Yunani, 1 Mei 2026 [Stefanos Rapanis/Reuters]

Riau - Ketegangan di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, memicu gelombang kecaman global setelah Reporters Without Borders menuding militer Israel melakukan dugaan penculikan terhadap jurnalis dan aktivis sipil yang berada dalam armada bantuan menuju Gaza.

Armada yang dikenal sebagai Global Sumud Flotilla itu bukan konvoi kecil. Laporan sejumlah media internasional menyebut lebih dari 20 kapal - bahkan hingga puluhan unit -  berlayar bersama dalam satu misi kemanusiaan lintas negara. Kapal-kapal tersebut berangkat dari berbagai pelabuhan di kawasan Mediterania, termasuk Barcelona di Spanyol serta sejumlah pelabuhan di Italia, sebelum berkumpul dan bergerak menuju Jalur Gaza.

Dalam pernyataannya, Amnesty International menyebut, ratusan orang dari puluhan negara ikut serta. Mereka bukan hanya aktivis, tetapi juga tenaga medis, relawan kemanusiaan, hingga jurnalis internasional yang meliput langsung perjalanan tersebut. Tujuan mereka jelas: menembus blokade laut dan mengantarkan bantuan ke Gaza, yang selama ini menghadapi krisis kemanusiaan berkepanjangan.

Muatan kapal disebut berisi bantuan sipil seperti makanan, susu bayi, dan perlengkapan medis, jenis logistik yang oleh penyelenggara dianggap sangat dibutuhkan warga Gaza.

Namun perjalanan itu terhenti di laut lepas. Militer Israel mencegat armada tersebut di perairan internasional, ratusan mil dari wilayah Gaza. Dalam operasi itu, menurut laporan Reuters dan The Guardian, sedikitnya sekitar 175 orang ditahan, termasuk awak kapal dan peserta misi.

Di antara mereka terdapat tiga jurnalis yang kemudian menjadi sorotan: Hafed Mribah dan Mahmut Yavuz dari Al Jazeera, serta Alex Colston dari media Amerika Serikat, Zeteo. Ketiganya berada di kapal untuk meliput misi tersebut, namun ikut ditahan saat operasi berlangsung.

Organisasi kebebasan pers internasional menilai penangkapan itu bukan sekadar tindakan keamanan, melainkan dugaan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. RSF menyebut penahanan jurnalis di laut lepas sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan, apalagi mereka tidak terlibat dalam konflik bersenjata.

Kritik juga datang dari berbagai pihak yang menyoroti lokasi kejadian. Operasi dilakukan jauh dari wilayah kedaulatan Israel, memperkuat tudingan bahwa tindakan tersebut melanggar hukum laut internasional. Beberapa pihak bahkan menyebutnya sebagai bentuk “perampasan” di laut terbuka.

Situasi semakin memanas setelah laporan menyebut komunikasi kapal sempat terganggu dan sejumlah armada mengalami kerusakan saat pencegatan berlangsung. Tuduhan ini belum sepenuhnya diverifikasi secara independen, namun memperkuat kekhawatiran atas keselamatan para penumpang.

Hingga kini, nasib sebagian dari mereka masih belum jelas. Sejumlah aktivis dilaporkan dibawa ke wilayah Yunani, sementara lainnya sempat berada dalam penguasaan otoritas Israel. Tekanan internasional terus meningkat, dengan tuntutan agar semua yang ditahan segera dibebaskan dan diberikan akses hukum.

Insiden ini kembali membuka luka lama: perdebatan soal batas kewenangan militer di laut internasional, serta keselamatan jurnalis yang bekerja di wilayah konflik yang kian kompleks.