
PEKANBARU - Penyidik Subdit IV Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau akhirnya membongkar makam Muhammad Fahri, pelajar yang meninggal dunia setelah diduga terlibat perkelahian dengan sesama pelajar di Kota Pekanbaru.
Ekshumasi dilakukan bersama tim dokter forensik Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Bidokkes) Polda Riau pada Kamis (6/8/2026). Langkah ini dilakukan untuk memastikan penyebab kematian Fahri, sekaligus mengungkap apakah cedera yang dialaminya berkaitan dengan perkelahian sebelum korban meninggal.
Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Riau AKBP Abdullah Hariri mengatakan ekshumasi merupakan tindak lanjut atas laporan keluarga korban yang meminta penyebab kematian Fahri diungkap melalui pemeriksaan forensik.

"Pada hari ini kita melaksanakan kegiatan ekshumasi ataupun otopsi terhadap jenazah atas nama almarhum Fahri," kata Akbp Abdullah kepada wartawan di lokasi pemakaman, Kamis (6/8/2026).
Dalam laporan keluarga, Fahri disebut terlibat perkelahian dengan seorang pelajar berinisial B pada Minggu (12/7/2026). Setelah kejadian, kondisi Fahri memburuk hingga akhirnya meninggal dunia pada Selasa (14/7/2026).
Sebelum meninggal, Fahri sempat menceritakan kepada keluarganya bahwa dirinya terlibat perkelahian dengan B.
Polisi kemudian melakukan penyelidikan setelah keluarga melaporkan dugaan tindak pidana tersebut ke Polda Riau.
AKBP Abdullah mengungkapkan, sebelum meninggal, Fahri sempat mengeluhkan sakit di sekujur tubuh. Pada malam harinya, keluarga mendapati urine korban berwarna hitam sehingga Fahri dibawa ke Rumah Sakit Aulia.
Di rumah sakit, Fahri menjalani pemeriksaan CT scan. Hasil pemeriksaan medis saat itu menunjukkan adanya dugaan memar pada bagian kepala dan kerusakan pada bagian leher.
"Pada saat di Rumah Sakit Aulia dilakukan CT scan, terdapat dugaan ataupun gejala memar di kepala dan juga ada kerusakan di bagian leher," ujarnya.
Temuan tersebut kembali diperiksa melalui ekshumasi dan autopsi. Polisi menyebut hasil lengkap pemeriksaan forensik masih menunggu analisis lebih lanjut.
Namun, pemeriksaan sementara menguatkan adanya cedera pada bagian kepala dan leher korban.
"Secara singkat kita bisa konfirmasi bahwa dari hasil pemeriksaan medis sebelumnya, memang ada cedera di kepala dan di lehernya," kata AKBP Abdullah.
Hasil autopsi nantinya menjadi salah satu bagian penting dalam penyelidikan untuk memastikan penyebab kematian Fahri.
Hingga ekshumasi dilakukan, polisi belum menetapkan tersangka dalam perkara tersebut.
AKBP Abdullah mengatakan penyidik masih berada pada tahap penyelidikan. Dua orang dari pihak keluarga, yakni kakak dan abang ipar korban, telah diperiksa sebagai saksi.
Penyidik juga telah mengantongi identitas pelajar yang dilaporkan keluarga serta seorang saksi kunci. Keduanya akan dipanggil untuk diperiksa pekan depan.
"Belum ada tersangka. Kami baru serangkaian penyelidikan. Sudah kami ambil keterangan dua orang dari pihak keluarga. Untuk terlapurnya inisialnya sudah ada dan saksi kunci juga sudah kami dapat," jelasnya.
Polisi juga belum dapat memastikan motif perkelahian yang berujung pada kematian Fahri.
"Motif belum tahu kita," ucap Akbp Abdullah.
Sementara berdasarkan keterangan Fahri kepada keluarganya sebelum meninggal, polisi untuk sementara menduga peristiwa tersebut merupakan perkelahian satu lawan satu, bukan pengeroyokan.
"Kalau sementara ini baru keterangan dari korban satu lawan satu," ujarnya.
Adapun pelajar berinisial B yang dilaporkan keluarga diketahui masih berstatus sebagai pelajar dan berusia di bawah umur.
"Inisial B. Masih pelajar juga, di bawah umur," pungkasnya.
Polisi kini menunggu hasil pemeriksaan forensik serta pemeriksaan terhadap terlapor dan saksi kunci untuk menentukan rangkaian peristiwa yang menyebabkan Fahri mengalami cedera hingga meninggal dunia. (ric)




PEKANBARU - Penyidik Subdit IV Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau akhirnya membongkar makam Muhammad Fahri, pelajar yang meninggal dunia setelah diduga terlibat perkelahian dengan sesama pelajar di Kota Pekanbaru.
Ekshumasi dilakukan bersama tim dokter forensik Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Bidokkes) Polda Riau pada Kamis (6/8/2026). Langkah ini dilakukan untuk memastikan penyebab kematian Fahri, sekaligus mengungkap apakah cedera yang dialaminya berkaitan dengan perkelahian sebelum korban meninggal.
Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Riau AKBP Abdullah Hariri mengatakan ekshumasi merupakan tindak lanjut atas laporan keluarga korban yang meminta penyebab kematian Fahri diungkap melalui pemeriksaan forensik.
"Pada hari ini kita melaksanakan kegiatan ekshumasi ataupun otopsi terhadap jenazah atas nama almarhum Fahri," kata Akbp Abdullah kepada wartawan di lokasi pemakaman, Kamis (6/8/2026).
Dalam laporan keluarga, Fahri disebut terlibat perkelahian dengan seorang pelajar berinisial B pada Minggu (12/7/2026). Setelah kejadian, kondisi Fahri memburuk hingga akhirnya meninggal dunia pada Selasa (14/7/2026).
Sebelum meninggal, Fahri sempat menceritakan kepada keluarganya bahwa dirinya terlibat perkelahian dengan B.
Polisi kemudian melakukan penyelidikan setelah keluarga melaporkan dugaan tindak pidana tersebut ke Polda Riau.
AKBP Abdullah mengungkapkan, sebelum meninggal, Fahri sempat mengeluhkan sakit di sekujur tubuh. Pada malam harinya, keluarga mendapati urine korban berwarna hitam sehingga Fahri dibawa ke Rumah Sakit Aulia.
Di rumah sakit, Fahri menjalani pemeriksaan CT scan. Hasil pemeriksaan medis saat itu menunjukkan adanya dugaan memar pada bagian kepala dan kerusakan pada bagian leher.
"Pada saat di Rumah Sakit Aulia dilakukan CT scan, terdapat dugaan ataupun gejala memar di kepala dan juga ada kerusakan di bagian leher," ujarnya.
Temuan tersebut kembali diperiksa melalui ekshumasi dan autopsi. Polisi menyebut hasil lengkap pemeriksaan forensik masih menunggu analisis lebih lanjut.
Namun, pemeriksaan sementara menguatkan adanya cedera pada bagian kepala dan leher korban.
"Secara singkat kita bisa konfirmasi bahwa dari hasil pemeriksaan medis sebelumnya, memang ada cedera di kepala dan di lehernya," kata AKBP Abdullah.
Hasil autopsi nantinya menjadi salah satu bagian penting dalam penyelidikan untuk memastikan penyebab kematian Fahri.
Hingga ekshumasi dilakukan, polisi belum menetapkan tersangka dalam perkara tersebut.
AKBP Abdullah mengatakan penyidik masih berada pada tahap penyelidikan. Dua orang dari pihak keluarga, yakni kakak dan abang ipar korban, telah diperiksa sebagai saksi.
Penyidik juga telah mengantongi identitas pelajar yang dilaporkan keluarga serta seorang saksi kunci. Keduanya akan dipanggil untuk diperiksa pekan depan.
"Belum ada tersangka. Kami baru serangkaian penyelidikan. Sudah kami ambil keterangan dua orang dari pihak keluarga. Untuk terlapurnya inisialnya sudah ada dan saksi kunci juga sudah kami dapat," jelasnya.
Polisi juga belum dapat memastikan motif perkelahian yang berujung pada kematian Fahri.
"Motif belum tahu kita," ucap Akbp Abdullah.
Sementara berdasarkan keterangan Fahri kepada keluarganya sebelum meninggal, polisi untuk sementara menduga peristiwa tersebut merupakan perkelahian satu lawan satu, bukan pengeroyokan.
"Kalau sementara ini baru keterangan dari korban satu lawan satu," ujarnya.
Adapun pelajar berinisial B yang dilaporkan keluarga diketahui masih berstatus sebagai pelajar dan berusia di bawah umur.
"Inisial B. Masih pelajar juga, di bawah umur," pungkasnya.
Polisi kini menunggu hasil pemeriksaan forensik serta pemeriksaan terhadap terlapor dan saksi kunci untuk menentukan rangkaian peristiwa yang menyebabkan Fahri mengalami cedera hingga meninggal dunia. (ric)